Pengertian kepribadian yang lazim

Pengertian kepribadian yang lazim 
Dalam kehidupan sehari-hari kita lazim mendengar istilah kepribadian atau pribadi. Maksud penggunaan istilah itu tidak selalu sama, dan munggkin juga jauh berbeda dari pengertian yang sesungguhnya. Marilah kita lihat beberapa penggunaan dari istilah kepribadian tersebut dalam kehidupan sehari-hari.


Kepribadian sebagai sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki. Kita sering mendengar seseorang menyatakan, “lembaga itu maju pesat setelah dipimpin oleh Bapak A, pantas saja sebab dia adalah orang yang berpribadi.” Yang lain menyatakan “perusahaan X menjadi mundur dan kacau-balau karena dipimpin oleh seorang yang tidak berpribadi”. Dalam kedua contoh di atas pribadi atau kepribadian dipandang sebagai suatu benda yang dimiliki atau tidak, Dimiliki sedikit atau banyak. Kedua orang tersebut sesungguhnya ingin menunjukkan sifat-sifat yang dimiliki orang yang disebut berpribadi, yaitu sebagai orang yang berpendirian tegeuh, bertindak tegas, konsekuen, berani mengambil resiko, bertanggung jawab dsb. Orang yang tidak berpribadi adalah orang yang lemah, mudah berubah, tidak berpendirian, ragu-ragu dalam bertindak, tidak bertanggung jawab,dsb.


Kepribadian diartikan sebagai kepribadian yang menarik dan kepribadian yang membosankan. Kepribadian yang menarik atau yang subut (lot of personality), menggambarkan sebuah sosok yang memiliki sifat-sifat: mudah menarik simpati orang, mengesankan, berbudi pekerti, sopan santun, memberikan kesan pertama yang baik. Kepribadian yang membosankan atau gersang (no personality) menunjukan adanya sifat-sifat yang tidak disukai orang, membosankan, kurang bersemangat, tidak menarik, tidak mendalam, mudah dilupakan.


Kepribadian adalah pengaruh seseorang kepada orang lain (personality is your effect upon other people). Kepribadian dilihat dari pengaruhnya terhadap orang lain, orang yang berpengaruh atau besarnya pengaruh terhadap orang lain dipandang berpribadi, sedang yang kecil atau tidak ada pengaruhnya dipandang tidak berpribadi. Pengaruh seseorang terhadap orang lain sering kali dilatarbelakangi oleh kekuasaan atau kekuatan yang dimilikinya. Orang berpengaruh karena ilmunya, karena kedudukannya, jabatannya, popularitasnya, kecantikannya dsb. 


Kepribadian diartikan sebagai keagresifan, (personality identity it with the characteristic of aggresiveness). Dalam pengertian ini kepribadian dipandang sebagai sifat-sifat agresif, seorang yang memiliki kekuatan fisik, suka menyerang, berambisi, ingin berkuasa, ingin selalu menang dsb. Orang-orang yang memiliki sifat pendiam, suka menerima, pasif, mudah tunduk dsb, dipandang tidak berpribadi.


Kepribadian dipandang sebagai sebuah benda. Kepribadian dipandang sebagai suatu benda yang bisa ada dan tidak ada pada seseorang, ada sedikit atau banyak, memiliki tempat, dapat dilihat bentuk atau wujudnya. Kepribadian bukanlah sebuah benda, ia adalah suatu konsep abstrak yang menggambarkan bagaimana individu dan mengapa individu berperilaku.


Kepribadian semata-mata faktor jasmaniah. Aspek jasmaniah merupakan hal yang nampak keluar. Penampilan seseorang juga terlihat dari aspek jasmaniah, dipengaruhi oleh struktur tubuhnya, tinggi dan besar badannya. Juga seseorang dapat mudah melihat apa yang akan dialaminya bila individu mengalami cacat badan, anggota badan yang tidak lengkap, kondisi indra yang tidak sempurna, atau mengalami gangguan pada otak pada jantung dsb. Kehidupan individu tidak hanya terdiri atas aspek jasmaniah tetapi juga aspek rohaniah. Seseorang mungkin secara jasmaniah sempurna dan sehat, tetapi sering kali mereka juga menderita sesuatu yang sifatnya rohaniah, merasa gelisah, cemas, takut, bimbang, tidak percaya diri, susah tidur, tidak enak makan dsb. Semuanya itu adalah aspek-aspek kepribadian mencakup aspek jasmaniah dan juga rohaniah.


Kepribadian adalah semata-mata hasil dari kebudayaan. Ada yang berpendapat bahwa kepribadian seluruhnya hasil belajar, hasil pengalaman dan pengaruh dari kebudayaan. Di samping faktor lingkungan atau kebudayaan, kepribadian individu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dibawa dari kelahirannya. Memang pengaruh faktor kebudayaan kelihatannya lebih dominan, sebab faktor-faktor bawaan sifatnya lebih tersembunyi, bersifat potensial sedang faktor kebudayaan lebih nyata dan terlihat. Dua orang individu yang berasal dari suatu daerah dengan lingkungan budaya yang sama akan memperlihatkan ciri-ciri yang sama, pakaian, bahasa, tingkah laku, sopan santun, adat istiadat, termasuk kebiasaan, cara berpikirnya hampir seluruhnya sama. Demikian juga dua individu yang berasal dari dua lingkungan budaya yang berbeda akan memiliki banyak perbedaan, sehingga seolah-olah kebudayaanlah yang menentukan pembentukan kepribadian seseorang. Apabila dilihat secara umum memang antara orang-orang berasal dari lingkungan budaya yang sama seolah-olah sama, tetapi apabila kita lihat lebih teliti, di antara mereka juga banyak perbedaannya. Tiap individu memiliki ciri-ciri sendiri. Kepribadian tidak hanya ditentukan oleh faktor budaya tetapi tidak juga faktor bawaan.


Kepribadian adalah jumlah dari sifat-sifat. Individu memiliki sejumlah sifat atau ciri-ciri, seperti bertumbuh kekar, berkulit sawo matang, berambut keriting, berbakat musik, periang, bersahabat, tekun, jujur, rajin dsb. Sering kali kepribadian dipandang sebagai perjumlahan dari semua ciri-ciri tersebut. Kepribadian bukan perjumlahan dari ciri-ciri atau sifat-sifat, tetapi merupakan kesatupaduan dari semua aspek, kemampuan dan ciri-ciri diatas. Kesatupaduan atau integritas lebih dari sekedar perjumlahan, sebab dalam kesatupaduan terdapat hubungan fungsional di antara aspek, kemampuan ciri-ciri tersebut. Suatu harmoni. Gordon Allport menyebutnya sebagai suatu sistem psikofisik. Mobil bukanlah kumpulan dari spare part (bagian-bagian mobil), sebab kalau semua bagian mobil tersebut dilepaskan dan ditumpukkan, walaupun lengkap tumpukan tersebut bukanlah mobil. Mobil adalah mobil bila semua bagian tersebut tersusun dalam urutan tertentu, terdapat hubungan fungsional di antara bagiannya. Apabila kunci kontaknya dinyalakan maka hiduplah dia, bila perseneling dimasukan dan gas di injak berjalanlah mobil tersebut. Meskipun semuanya lengkap, apabila kunci dinyalakan tidak hidup, perseneling dimasukan dan gas diinjak tidak jalan maka kendaraan itu bukan mobil, minimal disebut mobil mogok.


Kepribadian merupakan keterpaduan antara aspek-aspek kepribadian, yaitu aspek psikis seperti aku, kecerdasan, bakat, sikap, motif, minat, kemampuan, moral, dan aspek jasmaniah seperti postur tubuh, tinggi dan berat badan, indra, dll. Diantara aspek-aspek tersebut aku atau diri (self) sering kali ditempatkan sebagai pusat atau inti kepribadian.
Definisi kepribadian


Kepribadian bahasa inggrisnya “personality” berasal dari bahasa yunani “per” dan “sonare” yang berarti topengan, tetapi juga berasal dari kata “personae” yang berarti pemain sandiwara, yaitu pemain yang memakai topeng tersebut.


Sehubungan dengan kedua asal kata tersebut, Ross Stagner (1961), mengartikan kepribadian dalam dua macam. Pertama, kepribadian sebagai topeng (mask personality), yaitu kepribadian yang berpura-pura, yang dibuat-buat, yang semu atau mengandung kepalsuan. Kedua, kepribadian sejati (real personality) yaitu kepribadian yang sesungguhnya, yang asli.


Memang sangat sulit bagi kita, apalagi pada pertemuan pertama untuk menentukan apakah yang diperlihatkan seseorang itu kepribadian sejati atau semu. Kepribadian semu bisa berbeda dari satu saat ke saat yang lain, dari satu situasi ke situasi yang lain, dan penampilan kepribadian seperti itu pasti ada maksudnya. Kepribadian sejati bersifat menetap, menunjukkan ciri-ciri yang lebih permanen, tetapi karena kepribadian juga bersifat dinamis perbedaan-perbedaan atau perubahan pasti ada disesuaikan dengan situasi, tetapi perubahannya tidak mendasar.


Karena banyaknya teori dan aliran dalam psikologi maka sebanyak itu pula rumusan atau definisi tentang kepribadian. Sebagai bahan ilustrasi dan perbandingan dibawah ini dikemukakan beberapa definisi kepribadain.


Dalam pengertian yang sangat lama, seperti menurut Morton Prince (1924); “personality is the sum total of all the biological innate disposition, impulses, tendencies, appetities and instinct of the individual, and the acquired disposition and tendencies”. Disini prince masih melihat kepribadian sebagai perjumlahan dari aspek-aspek dan ciri-ciri kepribadian.


Floyd Allport (1924), melihat kepribadian sebagai suatu yang terjalin dalam hubungan sosial, “personality of individual characteristic reactions to social stimuli and the quality of his adaptation to the social features of his environment”. Yang lain yaitu May (1929) mengemukakan rumusan yang sejalan dengan Allport, bahwa “personality is the social stimulus value of the individuals”.


Hampir sejalan dengan pendapat kedua ahli di atas, tetapi lebih jauh Gutrie (1944) menekankan sifat yang menetap pada kepribadian. Menurut dia “personality is those habits and habits system of social importance that are stabel and resistance to change”.


Beberapa para ahli yang kemudian, melihat unsur yang sangat penting dalam kepribadian, yaitu keterpaduan. Menurut McClelland (1951) kepribadian adalah “...the most adequate conceptulization of a persons behavior in all detail”, sedang menurut Guilfort (1959) kepribadian adalah “...a persons unique pattern of trits”.


Gordon Allport (1961) mengemukakan rumusan yang lebih menyeluruh dan tegas, bahwa kepribadian adalah “...the dynamic organization whithin the individual of those psychopysicial systems that determine his unique adjustment whit the environment”. Sejalan dengan pendapat Gordon Allport adalah rumusan yang diberikan oleh Walter Mischel (1981) bahwa “personality ussually refers to the distinctive patterns of behavior (including thoughts and emations) that characterize each individuals adaptations to the situations of his or her life”.


Rumusan mana yang paling sesuai dengan pendapat pembaca silakan mengkajinya sendiri. Mungkin pembaca memiliki alasan tertentu mengapa suatu pendapat lebih disetujui dari yang lainnya.


TIPOLOGI KEPRIBADIAN
Kepribadian merupakan suatu kesatuan yang menyeluruh dan kompleks. Setiap orang memiliki kepribadian tersendiri. Walaupun demikian para ahli tetap berusaha untuk menyederhanakannya dengan cara melihat atau beberapa faktor dominan, atau ciri utama, atau melihat beberapa kesamaan. Atas dasar itu, maka sejak lama para ahli mengadakan pengelompokan kepribadian atau tipologi kepribadian.


Tipologi kepribadian yang tertua adalah yang bersifat jasmaniah, yaitu berdasarkan cairan badan. Hippocrates (400 sm), yang kemudian diperkuat oleh Galenus (150 SM), mengembangkan suatu teori tipologi kepribadian berdasarkan cairan tubuh yang menentukan temperamen seseorang, yaitu; empedu hitam, empedu kuning, lendir, dan darah. Berdasarkan dominansi/kekuatan sesuatu cairan pada seseorang, maka ada empat tipe kepribadian, yaitu:
1. Choleric (choler adalah empedu kuning). Yang dominan pada orang tersebut adalah empedu kuning. Seorang choleric memiliki temperamen cepat marah, mudah tersinggung, tidak sabar dsb.
2. Melancholic (melas dan choler adalah empedu hitam).Yang dominan pada orang melancholic adalah empedu hitam, dia memiliki temperamen pemurung, penduka, mudah sedih, pesimis dan putus asa.
3. Phelegmatic (phelegma adalah lendir). Seorang phelegmatic yang didominasi oleh lendir dalam tubuhnya, memiliki temperamen yang serba lamban, pasif, malas, dan apatis.
4. Sanguinic (sanguine adalah darah). Yang dominan pada orang ini darah, ia memiliki sifat-sifat periang, aktif, dinamis, cekatan.


Tipologi ini didasarkan atas teori yang lahir dari pemikiran filosofis, dan bukan penelitian empiris. Meskipun bersifat biokimiawi, tetapi cairan-cairan tersebut sukar untuk dibuktikan secara kimiawi; apalagi pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Adanya orang-orang yang bertemperamen demikian dapat kita temukan dalam kenyataan.


Tipologi lain yang masih bersifat jasmaniah adalah dari Kretchmer. Berdasarkan hasil penelitian empiris dengan sejumlah pasien yang mengalami gangguan psikis, Kretchmer pada tahun 1925 menyimpulkan adanya empat tipe kepribadian individu yang digolongkan berdasarkan bentuk tubuh.
1. Asthenicus atau Leptosome, yaitu orang-orang yang berperawakan tinggi kurus. Orang berperawakan tinggi kurus, dada sempit, legan kecil panjang, otot-otot kecil, dagu sempit, perut kempis, muka cekung, kekurangan darah, memiliki sifat kritis, memiliki kemampuan berpikir abstrak, suka melamun, sensitif.
2. Pyknicus, seorang yang berperawakan pendek gemuk, tubuh bulat, muka bulat, lengan lembut bulat, dada kembung, perut gendut. Mereka memiliki sifat periang, suka humor, populer, hubungan sosial luas, banyak kawan, suka makan.
3. Athleticus, seorang yang bertubuh tinggi besar, berbadan kukuh, otot-otot besar, dada bidang, dagu tebal. Seorang Athlelicus senang pada pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik, mereka adalah pemberani, agresif, mudah menysuaikan diri, berpendirian teguh.


Menurut Kretchmer ketiga tipe tersebut adalah tipe yang ekstrim. Di samping itu ada orang-orang yang perkembangannya diantaranya. Mereka disebut tipe campuran atau tipe Dysplastic. Telah disebutkan di muka bahwa studi Kretchmer dilakukan pada para pasien yang mengalami gangguan psikis. Banyak ahli yang berpendapat bahwa tipologi tersebut hanya berlaku bagi mereka yang mengalami gangguan psikis, tetepi menurut Kretchmer tipologinya berlaku juga pada orang sehat. Gangguan psikis yang diderita seorang Asthenicus adalah schizothrenia, sedang pycknicus adalah manic depressive. Seorang Asthnicus normal memiliki kepribadian schizothyme, sedang pycknicus berkepribadian cyclothyme. 


Hampir sejalan dengan tipologi kretchmer adalah tipologi dari sheldon (1940). Berdasarkan penelitian empiris terhadap unsur-unsur jaringan tubuh dari embrio, sheldon menyimpulkan ada tiga tipe khas manusia berdasarkan bentuk tubuh, yaitu 
1. Endomorphic, berbadan pendek gemuk dengan ciri-ciri kepribadian yang disebutnya sebagai viscerotonia, yaitu: senang makan, hidup mudah, tak banyak yang dipikirkan, rasa kasih sayang, senang bergaul, toleran, rileks.
2. Mesomorphic, berbadan tinggi besar dengan ciri kepribadian somatonia, yaitu senang akan kekuatan jasmaniah, aktif, agresif, energik.
3. Ectomorphic, berbadan tinggi kurus dengan ciri kepribadian cerebrotonia yaitu suka berpikir, melamun, senang menyendiri, pesimis, mudah terharu.


Tipologi Shaldon mirip dengan tipologi dari Kretchmer, kelebihannya Sheldon menambahkan ciri kepribadian utama dari masing-masing tipe, dengan sifat-sifat yang juga tidak banyak berbeda dari Kretchmer. Sesungguhnya setiap orang memiliki ketiga ciri kepribadian yang dikemukakanoleh Sheldon, hanya pada orang tertentu suatu ciri lebih menonjol dibandingkan dengan yang lainnya.


Tipologi lain diberikan oleh Carl Gustav Jung, seorang psikiatris dari Swiss. Kalau ketiga tipolgi yang telah diuraikan dimuka merupakan tipologi berdasarkan ciri-ciri jasmaniah, maka topologi Jung berdasarkan ciri-ciri psikis.


Berdasarkan kecenderungan hubungan sosialnya, maka jung membedakan dua tipe manusia, yaitu tipe Ekstrvert dan intovert. Seorang yang bertipe Eksravert, mempunyai ciri-ciri keputusan dan reaksi-reaksinya ditentukan oleh hubungan obyektif, bukan oleh hubungan subyektif. Perhatiannya lebih banyak tertuju ke luar, yaitu kepada lingkungan, lebih mendahulukan kepentingan lingkungannya daripada kepentingan dirinya, pribadinya terbuka, bersikap obyektif dan nyata. Seorang Intovert perhatiannya lebih tertuju kedalam dirinya, lebih banyak dikuasai oleh nilai-nilai subjektif. Apa yang dilakukannya banyak didasari oleh cita-cita dan pemikirannya sendiri bersifat absolut dan disesuaikan dengan nilai-nilai dirinya.


Selanjutnya Jung juga menambahkan bahwa ada empat fungsi dasar pada individu, yaitu fungsi: berpikir berperasaan, pengindraan dan intuisi. Kalau dikombinasikan dengan kedua tipe diatas, maka ada Ekstavert pemikir, perasaan pengindra, intuisi; juga Introvert pemikir, perasa, pengindra, intuisi. Orang yang benar-benar Ekstavert atau Introvert jumlahnya tidak banyak, kebanyakan sifat diantaranya, yaitu Ambivert.


Tipologi lain dikembangkan oleh Spranger, seorang filsuf Jerman. Spranger mengelompokan individu atas dasar kecendrungannya akan nilai-nilai dalam kehidupan. Menurut Spranger ada empat tipe kepribadian atas dasar kecendrungan akan nilai
1) Theoretic atau manusia toeritis, mereka yang mendasarkan tindakan-tindakannya atas dasar nilai-nilai teoritis atau ilmu pengetahuan. Tipe ini memiliki dorongan yang besar untuk meneliti,mencari kebenaran,rasa ingin tahu,pandangan yang objektif tentang dirinya dan dunia luar.
2) Ekonomi, mendasarkan aktifitasnya atas dasar nilai-nilai ekonomi, yaitu prinsip untung rugi. Perilakunya selalu diwarnai oleh dorongan-dorongan ekonomi, melihat manfaat sesuatu benda bagi kehidupan, segala sesuatu dilihat dari manfaat atau kegunaannya terutama untuk dirinya.
3) Aesthetic yaitu mereka yang menjadikan nilai-nilai keindahan (estetika) sebagai dasar dari pola hidupnya. Sifat-sifat individu dari tipe ini adalah, senang akan keindahan, bentuk-bentuk simetris, harmonis, segala sesuatu dipandang dari sudut keindahan.
4) Sociatic mereka yang lebih mengutamakan nilai-nilai sosial atau hubungan dengan orang lain sebagai pola kehidupannya. Beberapa sifat tipe ini, menyenangi orang lain, simpatik, baik, meninjau persoalan dari hubungan antar manusia.
5) Politic, yaitu mereka yang menjadikan nilai-nilai politik sebagai pola hidupnya. Ia memiliki dorongan untuk menguasai orang lain, menjadi manusia terpenting dalam kelompoknya.
6) Relegious, mengutamakan nilai-nilai spritual hubungan dengan Tuhan. Perilakunya didasari oleh nilai-nilai keagamaan, keimanan yang teguh, penyerahan diri kepada Tuhan.


Erich Fromm membagi manusia atas dua tipe berdasarkan orientasi dirinya, yaitu yang Berorientasi produktif atau productive Orientation dan yang berorientasi tidak produktif atau Unproductive Orientation. Individu yang memiliki orientasi produktif, adalah yang memiliki pandangan realistis, mampu melihat segala sesuatu secara obyektif, dengan kelebihan dan kekurangannya. Ia beranggapan bahwa dirinya mempunyai kekuatan, kemampuan, tetapi juga kekurangan-kekurangan, demikian juga halnya orang lain ada kelebihan dan kekurangannya. Untuk mengatasi segala persoalan yang dihadapi dalam hidupnya diperlukan suatu kerjasama. Setiap individu wajib mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya, serta wajib berusaha untuk mencapai apa yang dicita-citakan.


Individu yang memiliki orientasi tidak produktif, ada beberapa bentuk.
1) Receptive atau penerima. Tipe ini mempunyai asumsi bahwa sumber kekuatan ada di luar dirinya, dia tidak bisa apa-apa, yang bisa dia lakukan adalah menerima apa yang dibuat dan dihasilkan oleh orang lain.
2) Eksploitative atau pemeras. Tipe ini hampir sama dengan tipe pertama, bahwa sumber kekuatan ada diluar dirinya, tetapi cara menguasainya bukan dengan cara menerima tetapi harus merebutnya. Semboyan dari tipe orang ini adalah “mangga curian lebih enak dari yang ditanam sendiri”.
3) Hoarding atau Tertutup. Individu yang bertipe ini punya anggapan bahwa sumber kekuatan ada pada dirinya. Karena dia merasa kuat dan mampu sendiri, maka ia tidak membutuhkan sarana, pendapat ataupun kerjasama dengan orang lain, dirinya tertutup untuk dunia luar.
4) Marketing Personality atau Pribadi Pasar. Tipe ini bertolak dari anggapan yang sama dengan tipe ketiga, bahwa sumber kekuatan ada dalam dirinya, tetapi caranya adalah menjual atau memasarkan apa yang ia miliki. Pribadi Pasar ini, seperti halnya pedagang ia berusaha menjual apa yang laku di pasaran dengan harga tinggi. Jadi pribadinya berubah-ubah sesuai dengan pasaran, atau situasi kondisi yang memintanya.


Apa yang yang dikemukakan oleh Fromm bukan sekadar tipe-tipe kepribadian, tetapi juga pemisahan mana pribadi yang sehat dan mana yang tidak sehat. Orientasi diri yang produktif menunjukkan pribadi sehat, sedang Orientasi yang tidak produktif menunjukkan pribadi yang tidak sehat.


Dengan demikian, perkembangan mencakup seluruh aspek kepribadian, dan satu aspek dengan yang lainnya saling berinteraksi. Sebagian besar dari perkembangan aspek – aspek kepribadian terjadi melalui proses belajar, baik proses belajar yang sederhana dan mudah maupun yang kompleks dan sukar. Suatu proses perkembangan yang bersifat alami, yaitu berupa kematangan, berintegrasi dengan proses penyesuaian diri dengan tuntutan dan tantangan dari luar, dengan dipengaruhi oleh kesediaan, kemauan dan aspirasi individu untuk berkembang dan berubah. Semoga!!!

Subscribe to receive free email updates: