Ads 468x60px

Pages

October 22, 2014

Sistematika Penulisan TUGAS AKHIR / SKRIPSI

a. Bagian Awal
i. Halaman Judul TA atau Skripsi
Meliputi informasi Judul TA atau Skripsi, Subjudul : Studi kasus atau Studi Literatur, tulisan : ”Tugas Akhir” atau “Skripsi”, Nama dan NPM mahasiswa, Logo institusi, Nama institusi, Jurusan, Program Studi dan tahun (seperti contoh pada lampiran)

ii. Lembar pengesahan
Untuk pengesahan laporan TA atau Skripsi oleh ketua Jurusan dan dosen pembimbing

iii. Abstrak
Adalah suatu sinopsis yang menggambarkan isi keseluruhan laporan TA atau Skripsi yang meliputi minimal empat paragraf. Paragraf pertama berisi tema pokok atau uraian singkat topik TA atau Skripsi. Paragraf kedua berisi batasan tema pokok dan alasannya. Paragraf ketiga berisi Metoda atau Teknik yang dipakai dalam TA atau Skripsi. Paragraf keempat berisi hasil yang telah dicapai dalam TA atau Skripsi serta kesimpulan sementara. Abstrak ditulis dalam satu spasi.

iv. Kata Pengantar
Berisi pernyataan penghargaan penulis kepada dosen pembimbing, dosen penguji, dosen-dosen lain yang terlibat dan pihak-pihak yang berjasa dalam penyelesaian penulisan TA atau Skripsi selain pihak keluarga

v. Daftar isi
Sesuai urutan penulisan mulai dari abstrak sampai lampiran

vi. Daftar gambar, tabel dan simbol (jika ada)

b. Bagian Inti
i. Bab I. Pendahuluan:
Berisi latar belakang, identifikasi dan batasan masalah, maksud dan tujuan, metodologi, waktu dan lokasi penelitian dan sistematika penulisan.

ii. Bab II. Landasan Teori
Berisi teori dasar yang mendukung penulisan TA atau Skripsi, mencakup metoda atau teknik yang digunakan, teori tentang permasalahan, uraian singkat perangkat implementasi yang dipakai, dan kerangka penyelesaian masalah. Contoh : Definisi SI yang sudah umum tidak perlu disertakan

iii. Bab III. Analisis Kebutuhan
Berisi penjelasan tentang hasil pendefinisian kebutuhan dari permasalahan yang dijadikan topik TA atau Skripsi berikut pemodelannya.

Contoh:
Untuk pengembangan program aplikasi sistem informasi :
  • Uraian singkat sejarah, struktur organisasi, fungsi unit organisasi
  • Prosedur pelaksanaan pekerjaan dari permasalahan
  • Uraian hasil analisis kebutuhan sistem informasi, meliputi: deskripsi kebutuhan informasi, deskripsi kebutuhan fungsional, dan pemodelan kebutuhan fungsional, (DFD, DD, dan P-Spec).
iv. Bab IV. Perancangan
Berisi penjelasan tentang hasil perancangan berikut pemodelannya.

Contoh:
Untuk pengembangan program aplikasi sistem informasi
  • Perancangan perangkat lunak meliputi arsitektur dan algoritma program
  • Perancangan antar muka perangkat lunak, meliputi struktur menu, tata letak layar, dan tata letak dokumen keluaran
  • Perancangan basisdata meliputi diagram E-R, struktur tabel, dan relasi antar tabel
v. Bab V. Implementasi (D3) atau Implementasi dan Pengujian (S1)
Berisi penjelasan tentang pelaksanaan implementasi berdasarkan pada hasil perancangan. (D3) dan pengujian program aplikasi atau kinerja SI (S1)

Contoh:

Untuk pengembangan program aplikasi sistem informasi (D3):
  • Lingkungan implementasi, meliputi penjelasan tentang perangkat keras, platform sistem operasi dan basis data, serta bahasa pemrograman yang digunakan.
  • Batasan implementasi
  • Implementasi modul program
  • Implementasi antarmuka
  • Implementasi basis data
  • Kasus uji dan tabel hasil pengujian (S1)
vi. Bab VI. Kesimpulan dan Saran
Berisi kesimpulan (hasil yang berhasil diselesaikan sesuai ruang lingkup batasan masalah) dan saran (terhadap masalah yang belum terselesaikan sebagai pengembangan dan perbaikan-perbaikan) tentang kasus TA atau Skripsi

c. Bagian Akhir
i. Daftar pustaka : Urutan buku atau informasi situs Internet atau sumber lain,
ii. Lampiran-lampiran, sesuai kasus TA./ Skripsi

CONTOH :
Tugas Akhir Program Diploma 3 / TA.D-3

Judul : ” Perancangan Sistem Informasi Penjualan Tunai Di PT. Niaga Umul Quro Bandung menggunakan Microsoft Visual Basic 6.0 ”

Contoh : Sistematika Penulisan TUGAS AKHIR / SKRIPSI

Sistematika Penulisan TA atau SKRIPSI

Sistematika Penulisan TA atau SKRIPSI

ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL

BAB I. PENDAHULUAN
  • 1.1 Latar Belakang Masalah
  • 1.2 Identifikasi Masalah
  • 1.3 Batasan Masalah
  • 1.4 Maksud dan Tujuan
    • 1.4.1 Maksud
    • 1.4.2 Tujuan
  • 1.5 Metodologi
    • 1.5.1 Metodologi Pengumpulan Data
    • 1.5.2 Metodologi Pengembangan Sistem
  • 1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
    • 1.6.1 Lokasi Penelitian
    • 1.6.2 Waktu Penelitian
  • 1.7 Sistematika Penulisan
BAB II. LANDASAN TEORI
  • 2.1 Analisis dan Perancangan Sistem Informasi
    • 2.1.1 Pengertian
    • 2.1.2 Teknik Analisis dan Perancangan Sistem Informasi
    • 2.1.3 Perangkat Analisis dan Perancangan Sistem Informasi
  • 2.2 Teori tentang masalah yg dibahas
    • 2.2.1 Sistem Penjualan
      • 2.2.1.1 Pengertian
      • 2.2.1.2 Macam-macam Penjualan
  • 2.3 Perangkat Implementasi Sistem
    • 2.3.1 Uraian singkat Bahasa Pemrograman Visual Basic 6.0
    • 2.3.2 Pemrograman Client Server dengan Visual Basic 6.0
BAB III. ANALISIS KEBUTUHAN
  • 3.1 Tinjauan Organisasi
    • 3.1.1 Sejarah singkat Organisasi
    • 3.1.2 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas
  • 3.2 Analisis Sistem ( Sistem berjalan/lama )
    • 3.2.1 Prosedur Kerja Sistem Penjualan
    • 3.2.2 Identifikasi Dokumen
      • 3.2.2.1 Dokumen Masukan
      • 3.2.2.2. Dokumen Keluaran
    • 3.2.3 Identifikasi Kebutuhan Pemakai ( Kebutuhan akan Sistem rancangan baru, Kemampuan akan sistem yang akan dibuat. )
  • 3.3 Analisis Kebutuhan Sistem ( Sistem rancangan yg baru )
    • 3.3.1 Kebutuhan Informasi
    • 3.3.2 Kebutuhan Aplikasi
    • 3.3.3 Kebutuhan Perangkat Keras
  • 3.4 Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak ( Sistem rancangan yg baru )
    • 3.4.1 Kebutuhan Fungsional Perangkat Lunak
    • 3.4.2 Pemodelan Kebutuhan Fungsional
      • 3.4.2.1 Diagram Konteks
      • 3.4.2.2 Diagram Alir Data
      • 3.4.2.3 Kamus Data
      • 3.4.2.4 Spesifikasi Proses
    • 3.4.3 Pemodelan Data Konseptual
  • 3.5 Kriteria dan Batasan sistem ( Sistem rancangan yg baru )*optional
BAB IV. PERANCANGAN
  • 4.1 Usulan Struktur Organisasi yg baru ( Bila ada )
  • 4.2 Perancangan Sistem Informasi
    • 4.2.1 Perancangan Prosedur Kerja Sistem Baru
  • 4.3 Perancangan Perangkat Keras
    • 4.3.1 Arsitektur Konfigurasi Perangkat keras
    • 4.3.2 Spesifikasi Perangkat Keras
    • 4.3.3 Spesifikasi Perangkat Lunak
  • 4.4 Perancangan Basis Data
    • 4.4.1 Keterhubungan Antar Tabel
    • 4.4.2 Deskripsi Tabel
  • 4.5 Perancangan Perangkat Lunak
    • 4.5.1 Arsitektur Perangkat Lunak
    • 4.5.2 Antar Muka Pemakai
    • 4.5.3 Algoritma Program
BAB V. IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN
  • 5.1 Lingkungan Implementasi
    • 5.1.1 Perangkat Keras
    • 5.1.2 Perangkat Lunak
  • 5.2 Hasil Implementasi
    • 5.2.1 Implementasi Basis Data
    • 5.2.2 Implementasi Modul Program
    • 5.2.3 Implementasi Antar Muka Pemakai
  • 5.3 Lingkungan Pengujian
    • 5.3.1 Perangakat Keras
    • 5.3.2 Perangkat Lunak
  • 5.4 Pelaksanaan Pengujian
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
6.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSILAMPIRAN-LAMPIRAN

October 17, 2014

BAG III, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET

Okulasi hijau/coklat.
Dalam pelaksanaan okulasi terdapat enam tahap utama yaitu : kesiapan batang bawah, pembuatan jendela okulasi, penyiapan perisai mata okulasi, penempelan perisai okulasi, pembalutan dan pemeriksaan hasil okulasi. Pada umumnya, untuk okulasi hijau dan coklat, batang bawah dipersiapkan melalui pembibitan lapangan. Tahapan okulasi untuk okulasi hijau dan okulasi coklat adalah sama , yang berbeda hanyalah umur batang bawah dan entres yang digunakan.

Kriteria matang okulasi batang bawah
  • Untuk okulasi coklat, batang bawah siap diokulasi bila lilit batang sudah mencapai 5 – 7 cm, diukur pada ketinggian 5 cm dari permukaan tanah. Tunas ujung dalam keadaan tidur/dorman atau pada stadia daun tua.
  • Untuk okulasi hijau, batang bawah siap diokulasi bila lilit batang sudah mencapai 3 – 4,5 cm, diukur pada ketinggian 5 cm dari permukaan tanah.
Pembuatan jendela okulasi.
  • Batang bawah dibersihkan dari kotoran/tanah dengan menggunakan kain bersih(Gambar 6a)
  • Batang bawah yang sudah bersih diiris vertikal 5-7 cm dari permukaan tanah, lebar 1/3 dari lilit batang
  • Dibuat potongan melintang diatas irisan vertikal dan dibukakan sedikit ujungnya (Gambar 6b).
Pembuatan perisai mata okulasi
  • Mata tunas yang akan diokulasi diambil dari entres klon unggul(Gambar 6e dan 6f) Klon unggul anjuran antara lain adalah PB 260, RRIC 100, PB 330, BPM 109,IRR39 dll.
  • Mata tunas diambil dengan pembuatan perisai mata okulasi.
  • Mata tunas yang diambil adalah mata yang berada di bekas ketiak daun (mata daun).
  • Perisai mata okulasi dibuat dengan mengiris kayu entres, ukuran lebar 1 cm dan panjang 5-7 cm . Setelah diiris, pada bagian dalam kulit ada titik putih yang menonjol, berarti mata ikut terambil.
Penempelan perisai mata okulasi.
  • Setelah perisai mata okulasi diambil, segera jendela okulasi dibuka dan perisai mata okulasi dimasukkan kedalam jendela.
  • Jendela okulasi ditekan perlahan dan bagian ujung perisai yang dipegang dipotong dan dibuang. Diusahakan agar perisai mata okulasi tidak bergerak-gerak agar mata okulasi tidak rusak.
  • Jendela okulasi kemudian ditutup dan siap untuk dibalut.
Pembalutan perisai mata okulasi.
  • Bahan untuk pembalut adalah pita plastik transparan.
  • Pembalutan dimulai dari bawah dan disimpulkan diatas. Balutan sedemikian rupa sehingga kuat dan terhindar dari masuk air hujan.
Pemeriksaan hasil okulasi.
  • Buka perban dilakukan setelah 3 minggu pengokulasian.
  • Jendela okulasi dibuka dengan cara memotong lidah jendela okulasi.
  • Keberhasilan okulasi dapat diketahui dengan cara membuat cukilan pada perisai mata okulasi diluar matanya. Jika cukilan itu masih berwarna hijau dan bergetah, maka okulasi dinyatakan berhasil.
  • Pemeriksaan hidup defenitif dilakukan satu minggu kemudian.
Makalah ini Terdiri dari 3 Bagian, yaitu :
  1. BAG I, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  2. BAB II, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  3. BAG III, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
Pencabutan bibit
  • Bibit yang telah berhasil okulasinya, kemudian dicabut, akar lateral dipotong sehingga panjangnya 5-10 cm, akar tunggang dipotong hingga panjangnya 35 cm dan batang diserong 5 – 10 cm diatas pertautan okulasi. Bibit seperti itu disebut bibit stum okulasi mata tidur (SOMT).
  • Pencabutan bibit dapat dilakukan dengan menggunakan cangkul atau dengan menggunakan alat dongkrak stum.
  • Jika menggunakan cangkul, satu sampai dua minggu sebelum bibit dicabut, bibit dipotong miring pada ketinggian 5 – 7 cm diatas pertautan okulasi. Bekas potongan diolesi dengan TB 192 atau parafin. Pada jarak 10 cm disisi pokok dibuat lobang pakai cangkul. Sisi lobang ke arah akar hampir menyentuh akar tunggang pada kedalaman 50-60 cm. Kemudian stum dengan akar terpotong dicabut. Dengan menggunakan cangkul dapat dicabut 100-125 pokok bibit per hari kerja.
  • Jika menggunakan alat dongkrak stum, 2 s/d 3 minggu sebelum bibit dicabut, bibit dipotong pada ketinggian 50-75 cm diatas pertautan okulasi. Bagian atas batang dijepit dengan alat dongkrak bibit. Kemudian bibit dicabut secara perlahan dengan cara mengungkit tangkai dongkrak bibit (Gambar 7). Dengan menggunakan dongkrak stum dapat dicabut 600 pokok bibit per hari kerja.
Seleksi stum okulasi mata tidur.
  • Setelah dicabut, akar lateral dirempel sehingga panjangnya 5-10 cm. Akar tunggang disisakan 35 cm. Bibit dipotong pada ketinggian 5-7 cm diatas pertautan okulasi dengan arah potongan miring kebelakang tempelan okulasi. Selanjutnya bekas potongan diolesi dengan TB 192 atau parafin. Bibit demikian disebut dengan Stum Okulasi Mata Tidur (Gambar 8.)
  • Stum yang akar tunggangnya terserang jamur akar putih, mata okulasi rusak, akar bercabang banyak (menjari), akar bedenggol atau bengkok (muntir) tidak dipakai sebagai bahan tanam. Bila akarnya bercabang dua atau tiga maka satu atau dua akar yang terkecil dipotong dan lukanya diolesi dengan TB 192, sehingga dapat dipakai sebagai bahan tanam.
  • Bibit stum okulasi mata tidur selanjutnya dapat dianjurkan sebagai bahan tanam setelah terlebih dahulu ditumbuhkan didalam polibeg sampai mencapai stadia satu atau dua payung daun.

BAB II, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET

Pembuatan bedengan pembibitan dan pemancangan.
  • Tujuan pembuatan bedengan adalah untuk mempermudah pengawasan, transportasi bahan dan alat, pelaksanaan pekerjaan dan untuk menghindari tercampurnya klon saat okulasi.
  • Panjang bedengan 48 m, lebar 2,5 m, menghadap Utara-Selatan. Jarak antar bedengan 70 cm.
  • Pada tiap bedengan ada sebanyak 8 baris bibit dengan jarak tanam (25 cm x 25 cm) x 50 cm (double row).
  • Jumlah titik tanam tiap bedengan 1636 titik.
  • Ditengah-tengah areal bibitan (jika luasnya ± 1ha) dibuat jalan selebar 4 m yang menghadap Timur-Barat dan Utara- Selatan.
  • Setiap hektar ada 60 bedengan, sehingga jumlah titik tanam adalah 92.160 per hektar.
  • Lahan bibitan selesai di pancang (Gambar 3a).
Penanaman kecambah, penyiraman dan penyisipan.
Makalah ini Terdiri dari 3 Bagian, yaitu :
  1. BAG I, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  2. BAB II, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  3. BAG III, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  • Setiap titik tanam, ditanam satu kecambah dengan cara menugal sedalam ± 5 cm. Diusahakan akar tidak putus.
  • Kecambah diangkut ke lapangan di dalam ember berisi air.
  • Penanaman dilakukan pagi hari s/d jam 10.30 wib atau sore setelah jam 15.30 wib.
  • Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari (terutama jika tidak turun hujan) pada bulan pertama sejak tanam.
  • Penyisipan sesegera mungkin, dan dihentikan setelah bibit berumur ± 2 minggu.
Penyiangan pembibitan.
  • Penyiangan pakai garuk, rotasi 2-3 minggu, tergantung pada keadaan pertumbuhan gulma.
  • Penyiangan pakai herbisida tidak dibenarkan terutama pada bibit berumur muda.
Pemupukan pembibitan
  • Anjuran pemupukan tanaman di pembibitan batang bawah adalah sebagai berikut :
No.
Umur (bulan)
Dosis (gr/pohon)
Urea
TSP
KCl
Kieserit
(46%N)
(46% P2O5)
(60%K2O)
(27% MgO)
1
1
1,63
1,67
0,54
0,74
2
3
3,26
3,33
1,10
1,48
3
5
4,89
5,00
1,60
2,22
4
7
4,89
5,00
1,60
2,22
Keterangan : Bila pembibitan dipelihara pada umur yang lebih lanjut, pemupukan pakai dosis no.4 setiap dua bulan.
  • Jika menggunakan pupuk majemuk N-P-K-Mg (15-15-6-4), dosis yang dipakai adalah 5; 10; 15 dan 15 g/pohon untuk umur masing-masing 1; 3; 5 dan 7 bulan .
  • Pada pemupukan pertama, pupuk diberikan secara melingkar disekeliling pohon dan jangan sampai terkena pohon. Pada pemupukan selanjutnya, pupuk ditebar diantara barisan pohon (Gambar 4).
Pengendalian Penyakit di pembibitan.
  • Penyakit yang sering menyerang bibit karet yaitu: Colletotrichum gloeosporioides, Oidium heveae dan Corynespora cassicola.
  • Serangan penyakit gugur daun Colletotrichum dimulai pada saat terjadi pembentukan daun muda setelah musim meranggas. Daun yang sangat muda bila terserang penyakit akan melinting dan berubah warna menjadi hitam, kemudian gugur daun dan ujung tunas gundul. Bercak yang terjadi pada ujung daun atau tepi daun akan menyebabkan cacat daun (Gambar 5a,b,c). Pengendalian penyakit dilakukan dengan menggunakan Dithane M-45 konsentrasi 0,3% atau 0,2 % Daconil 75WP. Penyemprotan dilakukan pada saat pertumbuhan daun muda, sebanyak 3-4 rotasi dengan interval waktu 5 hari. Diperlukan 1,5 kg dithane M-45 atau 1 kg Daconil 75 WP per hektar per rotasi.
  • Serangan Oidium yang terjadi pada saat pertumbuhan daun muda dapat menyebabkan daun gugur kembali. Pertumbuhan daun muda yang bertepatan dengan musim kering panjang akan mengalami serangan Oidium yang berat. Serangan Oidium akan berulang selama terjadi pembentukan daun muda dan akan hilang dengan turunnya hujan. Pada daun yang terserang bercak-bercak putih kekuningan, disertai dengan benang-benang jamur. Pemberantasan Oidium dengan cara pendebuan menggunakan serbuk belerang murni. Pendebuan dilakukan pada awal pembentukan daun-daun baru, sebanyak 3-6 rotasi dengan interval 5-7 hari, menggunakan alat pendebu portable dosis 4-6 kg belerang/ha/rotasi.
  • Gejala penyakit gugur daun Corynespora pada daun yang lebih tua adalah adanya jamur membentuk bercak coklat tua sampai hitam. Urat-urat daun tampak lebih gelap daripada sekelilingnya sehingga bercak-bercak tersebut tampak menyirip seperti ikan (Gambar 5g). Penyakit ini diberantas dengan cara penyemprotan 0,2% Dithane M-45 (1,6 kg/ha/rotasi) atau 0,1% Calixin 750 EC (1 – 1,5 kg/ha/rotasi).
Pengokulasian
Berdasarkan umur dan jenis mata okulasi yang dipakai, okulasi dibedakan menjadi 3 bagian yaitu okulasi dini, okulasi hijau dan okulasi coklat. Perbedaan ketiga jenis okulasi tersebut adalah sebagai berikut :

Teknik Okulasi
Umur batang Bawah (Bulan)
Umur, ukuran dan warna entres.
Jenis mata okulasi
Okulasi Dini
2 – 3
7-8 minggu, garis tengah 0,5 cm, hijau muda.
Mata sisik atau mata daun yang telah dirempel tangkainya 3 minggu sebelum pakai.
Okulasi Hijau
4 – 6
5-6 bulan, garis tengah 1–1,5 cm, hijau
Mata daun.
Okulasi Coklat
12-Jul
8 – 12 bulan, garis tengah ± 2,1 cm, coklat.
Mata daun
Okulasi Dini.
  • Biasanya pada okulasi dini, batang bawah dipelihara didalam polibeg.
  • Ukuran polibeg dalam keadaan terlipat 15 cm x 37 cm.
  • Polibeg dilobangi sebelum diisi tanah.
  • Polibeg diisi tanah bagian atas (top soil).
  • Sebanyak 50 g Rock phosphat per polibeg dicampur dengan tanah sebelum diisi.
  • Lokasi bibitan dekat dengan sumber air yang cukup, datar dan dekat dengan jalan/kantor.
  • Polibeg disusun dengan terlebih dahulu membuat parit lobang sedalam 15 cm. Di parit/lobang ini, polibeg disusun double row. Jarak antara dua double row berurutan adalah 60 cm.
  • Satu kecambah yang telah disemaikan sebelumnya (stadia pancing atau jarum) ditanam pada setiap polibeg.
  • Penyiraman dilakukan setiap hari terutama jika tidak turun hujan.
  • Pemupukan menggunakan pupuk majemuk N-P-K-Mg 15-15-6-4 dengan dosis 7,5 g; 10 g dan 15 g/phn pada umur masing-masing 1, 2 dan 3 bulan.
  • Pengendalian penyakit daun sama dengan pengendalian penyakit daun di pembibitan lapangan.
  • Pada saat pengokulasian, mata entres yang digunakan adalah mata sisik yang diambil dari entres muda (berumur 7-8 minggu). Mata daun dapat dipakai, tetapi 3 minggu sebelum dipakai, tangkai daun dirempel dulu.
  • Umur batang bawah pada saat okulasi 2 – 3 bulan ditandai dengan 2 payung daun hijau.
  • Pisau okulasi yang dipakai ialah pisau okulasi yang ukurannya lebih kecil dari pisau okulasi yang lazim digunakan untuk okulasi hijau/coklat.
  • Pada batang bawah yang dilap terlebih dahulu, dibuat jendela okulasi selebar 0,3 s/d 0,4 bagian keliling batang atau kira-kira 4 mm. Panjang jendela ± 4 cm.
  • Entres dipotong dibawah kumpulan mata sisik. Entres diambil dari kebun entres yang dipersiapkan terlebih dahulu.
  • Mata entres dipilih yang tidak cacat, lalu dibuat torehan dengan lebar yang sesuai dengan jendela yang telah dibuka.
  • Pada saat penempelan perisai, jendela dibuka dari atas sepanjang ± 4 cm dipotong bagian bawah. Disisakan untuk parit perisai. Perisai ditempatkan pada jendela yang telah dibuka. Pembalutan dengan pita plastik dimulai dari bawah ke atas secara ketat.
  • Pembalut dibuka 21 hari setelah pengokulasian. Jika perisai tetap hijau, berarti okulasi berhasil. Pemeriksaan diulangi satu minggu kemudian untuk mengetahui hasil okulasi yang pasti.
  • Tujuh hari setelah pemeriksaan terakhir okulasi jadi, bibit dipotong pada ruas pertama.
  • Untuk mempercepat tumbuhnya mata okulasi, wiwil terhadap tunas liar yang tumbuh dari batang bawah segera dilakukan, dengan rotasi setiap minggu.
  • Mata okulasi yang tumbuh dipelihara terus di polibeg sampai stadia 1 – 2 payung daun. Tanaman ini siap dipindah ke lapangan sebagai bahan tanam.
  • Bibit yang okulasinya tidak jadi disusun lagi dan dapat diokulasi hijau pada umur selanjutnya.

BAG I, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET

TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
Aidi Daslin dan Nurhawaty Siagian
Balai Penelitian Sungei Putih
Pusat Penelitian Karet

Tanaman karet diperbanyak dengan cara okulasi. Penggunaan bibit semaian sebagai bahan tanam di lapangan tidak dianjurkan karena produksi rendah, keragaman tinggi dan masa tanaman belum menghasilkan lebih lama. Didalam teknik okulasi, mata okulasi yang diperoleh dari kebun kayu okulasi ditempelkan ke tanaman sejenis yang dipelihara di pembibitan batang bawah. Untuk mendapatkan bahan tanam karet yang bermutu baik, pembangunan dan pemeliharaan bibit batang bawah dan kebun kayu okulasi harus mengikuti norma dan anjuran. Sebelum dilakukan pengokulasian, bibit batang bawah dibangun dan dipelihara dengan baik di lahan pembibitan. Batang bawah diperbanyak dengan menggunakan benih yang berasal dari klon-klon anjuran.

Benih untuk batang bawah.
  • Biji dari klon anjuran AVROS 2037, GT 1, RRIC 100 dan PB 260.
  • Biji dipungut dari kebun produksi yang sudah berumur minimal 10 tahun
  • Daya kecambah/kesegaran minimal 70%.
  • Warna biji karet mengkilat, tidak cacat dan bernas.
Syarat lokasi bedengan perkecambahan
  • Topografi rata.
  • Dekat dengan jalan, sumber air dan pembibitan batang bawah serta mudah dilalui.
  • Memiliki naungan (buatan ataupun alamiah).
Pembangunan bedengan perkecambahan.
  • Bedengan dibuat dengan lebar 1,2 m dan panjang sesuai kebutuhan
  • Kotak bedengan dibuat dari papan yang diisi pasir (20 mesh) setebal 15 cm (Gambar 1b dan Gambar 1c).
  • Letak bedengan membujur Utara-Selatan dan jarak antar bedengan 1,5 m.
  • Pada tempat terbuka, bedengan diberi atap buatan dari daun lalang, menghadap ke Timur (depan) dengan tinggi 1,5 m dan belakang 1 m
  • Setiap meter bedengan dapat dikecambahkan 1000 butir.
Pendederan benih.
  • Benih ditanam dalam media pasir
  • Dua pertiga bagian perut biji terbenam dan sepertiga bagian punggung biji tetap muncul di permukaan.
  • Biji ditanam secara berbaris, jarak antar baris 1 cm dan dalam baris 0,5 cm (pakai mal).
  • Pintu lembaga menghadap ke satu arah dan selanjutnya ditutup dengan alang-alang.
  • Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari menggunakan gembor.
Syarat kecambah yang dipindah ke pembibitan.
  • Kecambah dalam stadia pancing atau jarum.
  • Kecambah berumur kurang dari 22 hari dari sejak semai.
  • Benih yang berkecambah setelah hari ke-21 dari sejak semai tidak dipakai.
  • Kecambah tidak terserang penyakit (Jamur Akar Putih)dan penyakit lainnya.
Syarat areal yang memenuhi untuk pembibitan batang bawah
  • Areal rata dan dekat dengan sumber air yang cukup.
  • Dekat dengan kantor dan jalan besar untuk memudahkan pengamatan.
  • Tanah berstruktur dan tekstur yang baik dan cukup gembur.
  • Bebas dari serangan hewan.
Penyiapan lahan pembibitan.
Makalah ini Terdiri dari 3 Bagian, yaitu :
  1. BAG I, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  2. BAB II, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  3. BAG III, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  • Satu sampai dua bulan sebelum pendederan benih, persiapan lahan untuk pembibitan harus sudah dimulai.
  • Penyiapan lahan dilakukan secara intensif dengan menggunakan alat-alat mekanik.
  • Pohon ditumbang dan dibongkar secara bersih.
  • Pengolahan tanah 2 kali ripping, 2 kali meluku dan satu kali menggaru.
  • Ripping I dan II menggunakan traktor rantai D-6 (yang sejenis), kedalaman pengolahan ³ 50 cm.
  • Ripping II dilakukan menyilang tegak lurus dari ripping I.
  • Luku I dan II pakai traktor ban dengan kedalaman pengolahan ³ 30 cm.
  • Setiap selang pengolahan waktunya adalah 2-3 minggu.
  • Menggaru pakai traktor ban.
  • Pada setiap selang pengolahan dilakukan ayap akar.
  • Kayu-kayu/akar ditumpuk di luar areal pembibitan.
  • Setelah luku II ditebar belerang 250 kg/ha (untuk mencegah JAP) dan pupuk dasar pospat alam 750 kg/ha.

KLON KARET ANJURAN LATEKS DAN KAYU

KLON KARET ANJURAN LATEKS DAN KAYU
Aidi Daslin
Balai Penelitian Sungei Putih

PENDAHULUAN
Peningkatan potensi tanaman untuk memproduksi lateks (sifat primer) dan perbaikan sifat-sifat lain yang menunjang produksi (sifat sekunder) diantaranya pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, mutu lateks dan sifat karet yang berlangsung pada siklus keempat memperlihatkan peningkatan potensi produksi, pemendekan masa TBM dan peningkatan potensi biomassa. Dengan adanya peluang-peluang untuk perbaikan genetik tanaman untuk sifat-sifat tersebut di atas memungkinkan budidaya karet tidak hanya mengharapkan hasil lateks tetapi juga lateks dan kayu.

Kegiatan pemuliaan karet yang sudah berjalan selama tiga generasi (1910-1985) telah menghasilkan klon-klon unggul, dengan potensi produksi karet lima kali lebih tinggi dari potensi produksi tanaman asal biji (+ 500 kg/ha/th). Sejalan dengan berkembangnya industri kayu karet, maka sasaran program pemuliaan adalah menghasilkan klon unggul yang memiliki potensi hasil lateks tinggi dan juga produksi kayu yang tinggi. Dari hasil kegiatan pemuliaan generasi keempat yang sedang berjalan saat ini, telah dihasilkan klon-klon unggul penghasil lateks-kayu yang telah direkomendasikan dalam anjuran bahan tanaman karet periode 2002 - 2004. Dari karakteristik dan arsitektur tanaman memperlihatkan bahwa klon-klon ini sangat berpotensi dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan kebun, baik dari segi hasil lateks maupun kayu.

KLON KARET ANJURAN
Adanya perubahan paradigma berkebun karet dari menghasilkan lateks menjadi menghasilkan kayu dan lateks , mendorong kegiatan pemuliaan untuk menghasilkan klon – klon unggul baru sebagai penghasil lateks maupun biomasa non - lateks. Kemajuan pemuliaan selama empat siklus seleksi telah mampu menghasilkan klon karet unggul yang dapat dibagi kedalam tiga kategori yaitu :
  1. Klon penghasil lateks : klon yang memiliki ciri potensi hasil lateks sangat tinggi tetapi hasil kayu sedang.
  2. Klon penghasil lateks-kayu : klon yang memiliki ciri potensi hasil lateks tinggi dan hasil kayu juga tinggi.
  3. Klon penghasil kayu : klon yang memiliki ciri potensi hasil lateks rendah tetapi hasil kayu sangat tinggi.
Untuk penanaman komersial mulai tahun 2002, telah dirumuskan klon karet anjuran sebagai berikut:

I. Klon Anjuran Komersial
  • Klon penghasil lateks : BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217, PB 260, PR 255, PR 261.
  • Klon penghasil lateks-kayu : BPM 1, PB 330, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 21, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 118.
  • Klon penghasil kayu : IRR 70, IRR 71, IRR 72, IRR 78.
  • Klon Harapan : IRR 24, IRR 33, IRR 41, IRR 54, IRR 64, IRR 68, IRR 107, IRR 111, IRR 220, PB 340.

October 15, 2014

BAB II, Makalah Fiqih Atau Islam

BAB II 
PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Karakteristik Hukum Islam
Pengertian hukum islam hingga saat ini masih rancu dengan pengertian syariah, untuk itu dalam pengertian hukum islam disini di maksudkan didalamnya dimaksudkan pengertian syariat. Dalam kaitan ini di jumpai pendapat yang mengatakan bahwa hukum islam atau fiqih adalah sekelompok dengan syari’at-syari’at yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia yang di ambil dari nash Al-qur’an alsunnah.

Bila ada nash dari Al-qur’an atau Al-sunnah yang berhubungan dengan amal perbuatan tersebut, atau yang diambil dari sumber sumber lain. Bila tidak ada nash dari Al-qur’an atau alsunnah di bentuklah suatu ilmu yang disebut dengan ilmu fiqiti. Dengan demikian yang di sebut ilmu fiqih ialah sekelompok hukum tentang amal perbuatan manusia yang diambil dari dalil yang terperinci.

Yang dimaksud dengan amal perbuatan orang mulkallaf yang berhubungan dengan ibadat ibadat muamalat, kepidanaan dan sebagainya, bukan yang berhubungan dengan aqidah ( kepercayaan ). Sebab yang terakhir ini termasuk dalam pembahasan ilmu kalam. Adapun yang dimaksud dengan dalil-dalil yang terperinci ialah satuan satuan dalil yang masing-masing menunjuk kepada suatu hukum tertentu.

Berdasarkan batasan tersebut diatas sebenarnya dapat di bedakan antara syari’ah dan hukum islam atau fiqih perbedaan tersebut terlihat pada dasar atau dalil yang digunakanya, jika syari’at di dasarkan kepada nash Al-qur’an atau alsunnah secara langsung tanepa memelurkan penalaran penalaran atau istihad dengan tetap berpegang pada semangat yang terdapat dalam syari’at.

Makalah Fiqih Atau Islam Ini terdiri dari 
Dengan demikian, jika syari’at bersifat permanen, kekal dengan abadi fiqih dan hukum islam bersifat temporer dan dapat berubah. Namun, dalam prakteknya antara syari’at dan fiqih sulit di bedakan ketika kita mengkaji suatu masalah misalnya kita pergunakan nash Al-qur’an dan Al-sunnah tersebut tetap memerlukan pilihan yang menggunakan akal.

Dalam kaitan ini tidak mengherankan jika Ahmad Zaki Yunani ada dua., Pertama, bahwa syari’at islam itu luwes, dapat berkembang untuk menanggulangi semua persoalan yang berkembang dan berubah terus dia sama sekali berbeda dengan apa yang telah di gambarkan baik oleh musuh-mush islam, maupun sementara penganutnya yang menyeleweng yakni bahwa syari’at islam suatu system agama yang sudah sangat mantap ajarannya.

Kedua dalam pusaka perbandingan hukum islam terdapat dasar-dasar yang mantap untuk pemecahan-pemecahan yang dapat dilaksanakan secara tepat dan cermat bagi persoalan-persoalan yang paling pelik di masa kini, yang tidak dapat dipecahkan oleh system Barat maupun oleh system prinsip Timur meskipun sekedar menaklukkan saja.

Sejalan dengan uraian tersebut, Zaki Yamani membagi syari’at islam dalam dua pengertian. Pertama, pengertian dalam bidang yang luas dan kedua pengertian dalam bidang yang sempit. Pengertian syari’at islam dalam bidang yang luas meliputi semua hukum yang telah di susun dengan teratur oleh para ahli fiqih dalam pendapat-pendapat fiqihnya mengenai persoalan di masa mereka, atau yang mereka perkirakan akan terjadi kemudian. Dengan mengambil dalil-dalil yang langsung dari Al-qur’an dan Al-hadist atau sumber pengambilan hukum seperti ijma’, qiyas, istihsan, dan juga istihsab. 

Syari’at dalam pengertian yang luas ini memberikan peluang untuk berbeda pendapat untuk mengikutinya atau tidak mengikutinya. Adapun dalam pengertian dalam yang sempit, syari’at islam itu terbatas pada hukum-hukum yang beradil pasti dan tegas yang tertera dalam Al-quran, hadist yang shahih, atau yang ditetapkan dengan ijma’. Dalam pengertian yang sempit ini, syari’at dengan dalil-dalilnya yang tegas dan pasti mewajibkan setiap muslim untuk mengikutinya dan menjadikannya sebagai sumber untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Perbedaa antara pengertian yang luas dan sempit tentang syari’at tadi maka terasa pentingnya dalam Negara-negara yang menlaksanakan syari’at islam seutuhnya seperti Saudi Arabia yang akan membuktikan secara mudah dan jelas perlu tidaknya pelaksanaan semua hukum syari’at islam dalam pengertian yang luas itu.

Kini syari’at islam sudah cukup tua, yaitu dari sejak kelahiran agama islam itu sendiri pada 15 abad yang lalu sampai sekarang. Sejauh manakah syari’at islam itu tetap actual dan mampu merespon perkembangan zaman, telah dijawab lewat berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli, contoh-contohnya dapat dilihat dalam uraian di bawah ini.

Dan dapun pembentukan dan perkembangan aliran fiqih secara lebih rinci telah dijelaskan dalam buku yang berjudul Sejah dan Perkembangan Hukum Islam, karena itu bagian ini akan diisi dengan ringkasan dari buku tersebut. Dengan demikian, kita telah mengenal sejumah aliran hukum islam, yaitu Madrasah Madinah, Madrasah Kufah, Aliran Hanafi, Aliran Maliki, Aliran Al-Syafi’i dan lain sebagainya karena banyak aliran yang muncul kemudian menghilang karena tidak ada yang mengembangkannya.

Aliran hukum islam yang terkenal dan masih ada pengikutnya hingga sekarang hanya beberapa aliran, diantaranya Hanafiyah, Malikiyah dan lain sebagainya. Akan tetapi, yang sering dilupakan dalam sejarah hukum islam adalah bahwa buku-buku aliran Sunni, sehingga para penulis sejarah hukum islam cenderung mengabaikan pendapat khawaris dan syi’ah dalam bidang hukum islam.

B. MODEL-MODEL PENELITIAN HUKUM ISLAM 
1. Model Harun Nasution 
Sesbagai guru besar dalam bidang Teologi dan Filsafat Islam penelitiannya dalam bidang hukun? Islam ini ia tuangkan secara ringkat dalam bukunya Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid II. Melalui penelitiannya secara ringkas terhadap berbagai hukum Islam dengan menggunakan pendekatan sejarah, Harun Nasution telah berhasil mendeskripsikan struktur ukum Islam secara komprehensif, yaitu mulai dari kajian terhadap ayat-ayat hukum yang ada dalam Al-qur’an, latar belakang sejarah pertumbuhan dan perkembangan hukum Islam dari sejak zaman Nabi sampai dengan sekarang, lengkap dengan beberapa mazhab yang ada, berikut sumber hukum yang digunakannya serta latar belakang timbulnya perbedaan pendapat.

Dengan membaca hasil penelitiannya itu pembaca akan memperoleh informasi tentang jumlah ayat Al-qur’an yang berkaitan dengan hukum, yang jumlahnya 368 ayat, dan 228 ayat atau 3 1/5 persen merupakan ayat yang mengungkap soal kehidupan kemasyarakatan umat yakni ayat yang berkaitan dengan hidup kekeluargaan, perkawinan, perceraian, hak waris dan sebagainya ayat-ayat mengenai perdagangan, perekonomian, jual beli, sewa-menyewa, pinjam meminjam, gadai, perseroan, kontrak, dan sebagai­nya ayat-ayat tentang kriminal, mengenai hubungan Islam dan bukan Islam, soal pengadilan, hubungan kaya dan miskin serta mengenai soal kenegaraan.

Harun Nasution melaporkan bahwa di periode Nabi segala persoalan dikembalikan kepada nabi untuk menyelesaikannya, Nabilah yang menjadi satu-satunya sumber hukum. Secara langsung pembuat hukum adalah Nabi, tetapi secara tidak langsung Tuhanlah pembuat hukum, karena hukum yang dikeluarkan Nabi bersumber pada wahyu, dari Tuhan. Nabi sebenarnya bertugas menyampaikan dan melaksanakan hukum yang telah diwahyukan kepadanya.

Dalam pendapat hukumnya Abu Hanifah dipengaruhi oleh perkembangan yang ada di Kufah yang letakmya jauh dari Madinah sebagai pusat kegiatan dakwah Rasulullah dan tempat tumbulnya Al-Sunnah. keadaan demikian Abu Hanifah banyak mempergunakan rasio sumber hukum Islam yang dia gunakan adalah Alquran, Al-Sunnah, Al-ra’yu, qiyas, istihsan dan syariat sebelum Islam yang masih sejalan dengan Al-qur’an dan Al-Sunnah. Mazhab ini sekarang banyak dianut di Turki, Suria. Afghanistan, Turkistan, dan India dan yang memakainva secara resmi adala Suria, Lebanon dan Mesir.

Sementara itu Imam Malik yang tinggal di Madinah sebagai pusat dakwah Rasulullah dan tempat beredarnya Hadist, serta masyarakatnya tidak semaju dibandingkan dengan masyarakat Kufah yang dihadapi Imam Malik nampak tidak sulit mendapatkan Hadist guna memecahkan berbagai masalah Untuk ini ia menggunakan sumber hukum berupa Alquran dan Sunnah.

Selanjutnya Imam Syaf’i yang pernah berguru pada Abu Hanifah dan pada Imam Malik serta pernah tinggal di berbagai kota seperti Kufah, Mesir, Madinah, dan Makkah tentu menghadapi permasalahan yang berlainan lagi, dalam kaitan pemecahan masalah. 

Selanjutnya Ahmad Ibn Hambal yang lahir di Baghdad pada tahun 780 M. Dalam pemikiran hukumn Ahmad bin Hambal memakai lima sumber yaitu Alquran, sunnah, pendapat sahabat yang diketahui tidak mendapat tantangan dari sahabat lain, pendapat seorang atau beberapa sahabat, dengan syarat sesuai dengan Al-qur’an serta sunnah, hadis mursal, dan qiyas dalam keadaan terpaksa.

Jika berbagai sumber hukum Islam dari lima mazhab tersebut disatukan antara satu dan lainnya, maka sumber hukum Islam itu meliputi Alquran, hi-Hadis, pendapat para sahabat, qiyas, istihsan, maslahat al-ummah, dan sariat sebelum Islam.

Dari uraian tersebut terlihat bahwa model penelitian hukum Islam yang digunakan Harun Nasution adalah penelitian eksploratif, deskriptif dengan menggunakan pendekatan kesejarahan. Interpretasi yang dilakukan atas data-data histotis tersebut selalu dikaitkan dengan konteks sejarahnya.

2. Model Moel J. Coulson
Hasil penelitian itu dituangkan dalam tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan tentang terbentukya hukum syariat, dan, yang di dalamnya dibahas tentang legalisasi Alqur’an, praktek hukum di abad pertama Islam, sebagai mazhab petama, lmam Al-Syaf’i, Bapak Yurisprudensi. Bagian kedua, berbicara tentang pemikiran dan praktek hukum Islam di abad pertengahan. Di dalamnya dibahas tentang, teori hukum klasik, antara kesatuan dan keragaman, darn aliran dalam sistem hukum, pemerintahan Islam dan hukum syari’at, masyarakat dan hukum syariat. Bagian ketiga, berbicara tentang hukum Islam dimasa modern yang di dalamnya dibahas tentang penyerapan hukum Eropa, hukum syariat kontemporer, taklid dan pembaharuan hukum serta neo ijtihad.

Pada bagian pendahuluan ia menyatakan bahwa problema yang men­dasar saat ini ialah adanya pertentangan antara ketentuan-ketentuan hukum tradisional yang dinyatakan secara kaku di satu pihak, dan tuntutan-tuntutan masyatakat modern di lain pihak. Apabila perjalanan hukum diarahkan agar bisa membentuk sebagai penjabaran perintah Tuhan, agar tetap hukum Islam, tak bisa dibenarkan suatu reformasi yang dimaksud­kan guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sebaliknya, reformasi harus mencari dasar hukum dalam prinsip-prinsip Islam sebagai penopang. Artinya, harus ada legitimasi (pengesahan) baik secara implisit maupun secara eksplisit dari kemauan Tuhan. Akan tetapi, selama teori tentang sistem hukum Islam klasik masih mendominasi dunia pemikiran dukungan seperti itu sukar diperoleh.

Menurut Coulson ada dua alasan prinsipil di balik keberagaman atau perbedaan: ini. Pertama, adalah lazim bahwa masing-masing qadi cenderung menetapkan aturan setempat yang tentu berbeda-beda antara satu daerah dengan yang lainnya.

BAB I, Makalah Fiqih Atau Islam

BAB I
PENDAHULUAN
Fiqih atau islam merupakan salah satu bidang studi islam yang paling di kenal masyarakat, hal ini antara lain karena fiqih terkait langsung dengan kehidupan masyarakat. Dari sejak lahir sampai dengan meninggal dunia manusia selalu berhubungan dengan fiqih. 

Tentang siapa misalnya yang harus bertanggung jawab memberi nafkah terhadap dirinya, siapa yang menjadi ibu bapaknya, sampai dia dimakamkan terkait dengan fiqih. Karena sifat dan fungsinya itu, maka fiqih dikategorikan sebagai ilmu Al-hal yaitu ilmu yang berkaitan dengan tingkah laku kehidupan manusia, dan termasuk ilmu yang wajib di pelajari. Karena dengan ilmu itu pula seseorang baru dapat melaksanakan kewajibannya mengabdi kepada Allah melalui ibadah Shalat, puasa, haji, dan sebagainya.

Dengan fungsinya yagn demikian itu tidak mengherankan jika Figih termasuk ilmu yang pertama kali diajarkan kepada anak-anak dari sejak di bangku taman kanak-kanak sampai dengan kuliah di perguruan tinggi. Dari sejak kanak-kanak seseorang sudah mulai diajari berdoa, berwudhu, shalat dan sebagainya dilanjutkan sampai tingkat dewasa di perguruan tinggi.

Para mahasisiwa mempelajari Fiqih secara lebih luas lagi, yaitu tidak hanya menyangkut Fiqih ibadah, tetapi juga Fiqih Mualamat seperti jual beli, perdagangan, sewa menyewa, gadai menggadai, dan perseroan, dilanjutkan dengan Fiqih Jinayat yang berkaitan dengan peradilan tindak pidana, masalah rumah tangga, perceraian dengan masalah perjanjian, perorangan, pemerintah dan sebagainya.

Keadaan Fiqih yang demikian itu nampak heran atau menyatu dengan misi agama Islam yang kehadirannya untuk mengatur kehidupan manusia agar tercapai ketertiban dan keteraturan, dengan Rasullah SAW. Sebagai aktor utamanya yang melaksanakan aturan-aturan hukum tersebut, karena wahyu, yaitu cara memperoleh dan mengetahui kehendak Tuhan secara langsung terhenti semenjak meninggalnya nabi Muhammad.

Makalah Fiqih Atau Islam Ini terdiri dari

Selanjutnya jika Ilmu hukum atau Fiqih disebut idealities, itu bukan .dimaksud untuk mengatakan bahwa materi-materi hukum itu sendiri tidak memiliki pertimbangan praktis yang terkait dengan kebutuhan di masyarakat, juga bukan dimaksudkan bahwa praktik hukum peradilan muslim tidak pernah sejalan dengan cita-cita di atas yang hendak ditandaskan ialah bahwa filsafat hukum orang Isalam pada hakikatnya adalah tidak lain pengembangan dan analisa terhadap hukum syari’ah yang abstrak, bukan hukum positif yang berasal dan bersumber dari forum pengadilan.

Karena itu sifat yang demikian menjadi cirri hukum islam dalam arti hukum yang mengatur kehidupan umat islam adalah pembedaan antara ajaran lokal dan praktek faktual, antara syari’ah seperti yang diajarkan ahli-ahli hukum klasik disatu pihak dan hukum positif yang berlaku di pengadilan dipihak lain. Dan ini merupakan dasar yang baik buat penelitian teoritis, suatu penelitian yang bergerak dalam ruang lingkup sejauh mana praktek pengadilan sesuai atau penyimpangan dari norma-norma syari’ah.

Berdasarkan pengamatan terhadap fungsi hukum islam atau fiqih tersebut, muncullah serangkaian penelitian dan pengembangan hukum islam, yaitu penelitian yang igin melihat seberapah jauh produk-produk hukum islam trersebut masih sejalan dengan tuntunan zaman, dan bagaimana seharusnya hukum islam itu dikembangkan dalam rangka merespon dan menjawab secara konkrit sebagai masalah yang timbul di masyarakat. Poenelitian ini dinilai penting untuk dilakukan agar keberadaan hukum islam atau fiqih tetap akrab dan fungsional dalam memandu dan membimbing perjalanan umat.

Sejalan dengan penelitian di atas, maka pada bagian ini akan dikemukakan tentang model-model penelitian fiqih atau hukum islam. Dengan terlebih dahulu mengemukakan pengertian Fiqih atau hukum islam serta karakteristiknya

BERSAMBUNG KE BAB II PEMBAHASAN

Tujuan fungsi dan manfaat filsafat

Tujuan, fungsi dan manfaat filsafat - Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).

Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran.

S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya. Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran.

Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugas filsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan ‘nation’, ras, dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya.

Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan.

Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).

Bersambung.....

October 12, 2014

BAB III, Makalah Ideologi Pendidikan Liberal

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Paradigma Ideologi Pendidikan
Menurut William O'neil, pakar pendidikan dari University of Southern California dalam ideologi Pendidikan (2001 ) bahwa pendidikan kalau boleh diibaratkan seperti seorang musafir yang sedang berada pada persimpangan jalan. Jalan mana yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan adalah pilihan. Begitu juga dengan pendidikan, memilih jalan itu merupakan hal yang amat penting dan menentukan keberhasilan.

Akan tetapi, dalam pendidikan yang menjadi persoalan adalah apakah pendidikan akan melegitimasi sistem dan struktur sosial yang ada ataukah berperan kritis dalam usaha melakukan perubahan sosial dan transformasi menuju dunia yang lebih adil. Dari adanya dua pilihan itulah, akhirnya melahirkan Ideologi pendidikan liberal dan Kritis. Kedua paradigma tersebut dijabarkan sebagai Paradigma kritis dan paradigma liberal.

3.2. Paradigma Idiologi Kritis dan Idiologi Liberal
Menurut paradigma kritis, pendidikan merupakan arena perjuangan politik. Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap 'the dominant ideologi' kearah transformasi sosial. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar cikap kritis terhadap sistim dan sruktur ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil.

Pendidikan tidak bisa bersikap netral, bersikap obyektif maupun berjarak dengan masyarakat (detachment) seperti anjuran positivisme. Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sistim dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk mencipta sistim sosial baru dan lebih adil. Dalam perspektif kritis, pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah 'memanusiakan' kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adi1.

Kedua yakni paradigma Liberal, berangkat dari keyakinan bahwa tidak ada masalah dalam sistim yang berlaku ditengah masyarakat, masalahnya terletak pada mentalitas, kreativitas, motivasi, ketrampilan teknis, serta kecerdasan anak didik. Paradigma pendidikan liberal kemudian menimbulkan suatu kesadaran, yang Dengan meminjam istilah Freire (1970) disebut sebagai kesadaran naif Keadaan yang di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat `aspek manusia` menjadi akar penyebab masalah masarakat. Dalam kesadaran ini 'masalah etika, kreativitas, 'need for achevernent' dianggap sebagai penentu perubahan sosial.

Jadi dalam menganalisis misalnya mengapa suatu masyarakat miskin menurut paradigtna pendidikan liberal karena `salah' masyarakat yang miskin itu sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki kewiraswataan, atau tidak memiliki budaya 'membangunan' dan seterusnya. Oleh karena itu 'man power development' adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. Pendidikan dalam kontek ini tidak mempertanyakan systim dan struktur yang berlaku, bahkan systim dan struktur yang ada dianggap sudah baik dan benar.

Dalam memandang tentang realitas sosial yang sedang berjalan, kaum liberal lebih berorientasi pada upaya menyesuaikan "subyek" terhadap realitas yang melingkupinya. Dengan demikian, berdasarkan pandangan ini, yang harus berubah adalah "subyeknya", dalam hal ini peserta didik, agar bisa beradaptasi dengan sistem dan struktur yang sedang berjalan.

3.2. Paradigma Idiologi Pendidikan Liberal

Berkaitan dengan pendidikan, kaum liberal beranggapan bahwa persoalan pendidikan terlepas dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dan pendidikan tidak memiliki kemudian lebih diarahkan pada penyesuaian atas sistem dan struktur sosial yang berjalan. Yang lebih diperhatikan adalah bagaimana meningkatkan kualitas dari proses belajar mengajar sendiri, fasilitas dan kelas yang baru, modernisasi peralatan sekolah, penyeimbangan rasio guru-murid.

Selain itu juga berbagai investasi untuk meningkatkan rnetodologi pengajaran dan pelatihan yang lebih effisien dan partisipatif, seperti kelompok dinamik (group dynamics) 'learning by doing', 'experimental learning', ataupun bahkan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebagainya. LTsaha peningkatan tersebut terisolasi dengan svstem dan struktur ketidak adilan kelas dan gender, dominasi budaya dan represi politik yang ada dalam masyarakat.

Kaum Libera sama-sama berpendirian bahwa pendidiakan adalah politik, dan “excellence" haruslah merupakan target utama pendidikan. Kaum Liberal beranggapan bahwa masalah mayarakat dan pendidikan adalah dua masalah yang berbeda. Mereka tidak melihat kaitan pendidikan dalam struktur kelas dan dominasi politik dan budaya serta diskriminasi gender dimasyarakat luas. Bahkan pendidikan bagi salah satu aliran liberal yakni `structural funrtionalisme' justu dimaksud sebagai sarana untuk menstabilkan norma dan nilai masyarakat. Pendidikan justru dimaksudkan sebagai media untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai nilai tata susila keyakinan dan nilai - nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi secara baik.

Pendekatan liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan rti berbagai macam pelatihan. Akar dan pendidikan ini adalah Liberalisme, yakni suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak, dan kebebasan (freedoms), serta mengidentifikasi problem dan upaya perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang.

Konsep pendidikan dalam tradisi liberal berakar pada cita cita Barat tentang individualisme. Ide palitik liberalisme sejarahnya berkait erat dengan bangkitnya kelas liberalisme dalam pendidikan dapat dianalisa dengan melihat komponen komponennya. Komponen pertama, adalah komponen pengaruh filsafat Barat tentang model manusia universal yaitu manusia yang "rational liberal".

Anda Kami Sarankan Untuk Melanjutkan ke Postingan Berikut ini
Ada beberapa asumsi yang mendukung konsep manusia "rasional liberal" seperti: pertama bahwa semua manusia memiliki potensi sama dalam intelektual, kedua baik tatanan alam maupun norma sosial dapat ditangkap oleh akal. Ketiga adalah "individualis" yakni adanya angapan bahwa manusia adalah atomistik dan atanom (Bay,1988). Menernpatkan individu socara atomistic, membawa pada keyakinan bahwa hubungan sosial sebagai kebetulan, dan masyarakat dianggap tidak stabil karena interest anggotanya yang tidak stabil.

Pengaruh liberal ini kelihatan dalam pendidikan yang mengutamakan prestasi melalui proses persaingan antar murid. Perankingan untuk menentukan murid terbaik, adalah implikasi dari paham pendidikan ini. Pengaruh pendidikan liberal juga dapat dilihat dalam berbagai training management, kewiraswastaan, dan training-training yang lain. Contoh kongkrit pendekatan liberal bisa kita lihat pada Achievement Motivation Training (AMT) McClelland. McClelland berpendapat bahwa akar masalah keterbelakangan dunia ketiga karena mereka tidak memiliki apa yang dinamakannya N Ach. Oleh karena sarat pembangunan bagi rakyat dunia ketiga adalah perlu virus "N ach" yang membuat individu agresif dan rasional

Komponen kedua adalah Positivisme. Positivisme sebagai suatu paradigma ihnu sosial yang dominan sewasa ini juga menjadi dasar bagi model pendidikan Liberal. Positivisme pada dasarnya adalah ilmu sosial yang dipinjam dari pandangan, metode dan teknik ilmu alarn memahami realitas. Positivisme sebagai suatu aliran filsafat berakar pada tradisi ilmu ilrnu sosial yang dikembangkan dengan mengambil cara ilmu alam menguasai benda, yakni dengan kepercayaan adanya universalisme and generalisasi, melalui metode determinasi, 'fixed law' atau kumpulan hukum teori (Schoyer, 1973). Positivisme berasumsi bahwa penjelasan tungal dianggap "appropriate" untuk semua fenomena.

Oleh karena itu riset sosial ataupun pendidikan dan pelatihan harus didekati dengan positivisme yang melibatkan unsur-unsur seperti obyektivitas, empiris, tidak memihak, detachment, rasional dan bebas nilai. Pengetahuan selalu menganut hukum ilmiah yang bersifat universal, prosedur harus dikuantifisir dan diveritikasi dengan metode "scientific". Dengan kata lain, positivism mensaratkan pemisahan fakta dan nilai dalam rangka menuju pada pemahaman obyektif atas realitas sosial.

Pendidikan dan pelatihan dalam positivistik bersifat fabrikasi dan mekanisasi untuk memproduksi keluaran pendidikan yang harus sesuai dengan `pasar kerja'. Dalam pola pemikiran positivistic Murid dididik untuk tunduk pada struktur yang ada. Dari sana, bisa kita lihat bahwa pada paradigma liberal pendidikan biasanya lebih melanggengkan system yang ada dengan melahirkan anak-anak didik yang berperan dalam mempertahankan system tersebut.

Tradisi liberal telah mendominasi konsep pendidikan hingga saat ini. Pendidikan liberal adalah menjadi bagian dari globalisasi ekonomi 'liberal' kapitalisme. Dalam kontek lokal, paradigma pendidikan liberal telah menjadi bagian dari sistim developmentalisme, dimana sistim tersebut ditegakan pada suatu asumsi bahwa akar 'underdevelopment' karena rakyat udak mampu terlibat dalam sistim kapitalisme. Pendidikan harus membantu peserta didik untuk masuk dalam sistim developmentalisme tersebut, sehingga masyarakat memiliki kemampuan dalam kompetisi di system kapitalis.

BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan pada Bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan yaitu Pada paradigma pendidikan liberal, fokus utama terletak pada bagaimana membuat anak didik memiliki kemampuan sehingga mereka bisa bersaing di tengah sistem yang berlaku pada masyarakat. Pendidikan liberal tidak melihat masalah yang berkembang daiam masyarakat karena sistem sosial masyarakat tersebut, tetapi karena ketidaksiapan manusia dalam menghadapi sistem. Sehingga ini akan mengakibatkan pembelajaran yang bersifat memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berguna sebanyak-banyaknya kepada anak didik, pengetahuan bersifat doktriner dan menilai sesuatu hanya dengan melihat kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh anak didik. Menariknya ideologi pendidikan inilah yang sekarang sedang berkembang ditengah-tengah masyarakat global.

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.fppm.org/Info%20Anda/pendidikan%20yang%20membebaskan.htm.
  2. Mansaor Faqih dan Toko Raharjo. Pendidikan yang memebebaskan . Agustus 2002
  3. http://www.pikiran-rakyat.com/Artikel/0802.htm
  4. Ahmad Dahidi & Miftachul Amri. Potrt Pendidikan di Jepang, Sebuah Refleksi. 22 Mei 2003
  5. http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
  6. Depdikans Indonesia, 2001, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Pusat Bahasa Pendidikan Nasional. Penerbit : Balai Pustaka; Jakarta