Ads 468x60px

Pages

October 31, 2014

BAG IV, TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KARET

BAG IV, TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KARET 
BIBIT DALAM POLIBEG
Bibit dalam polibeg adalah bibit okulasi yang ditumbuhkan dalam polibeg yang mempunyai satu atau dua daun payung, Bibit polibeg dapat dibuat dengan menanam stum mata tidur atau dengan pembibitan batang bawah di polibeg. Kelebihan dalam pembibitan di polibeg adalah lebih seragam ketika dipindah ke lapangan, memudahkan penyiraman dan dapat menghemat air ketika penyiraman.

Bibit Polibeg dari Stum Mata Tidur
Untuk mendapatkan pertumbuhan bibit yang baik didalam polibeg, maka dibutuhkan stum mata tidur yang telah terseleksi sesuai dengan mutu standar. Tahapan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
  • Polibeg berukuran 25 cm x 40 cm dipersiapkan dan diisi dengan tanah top soil (tanah bagian permukaan 10-15 cm) yang sudah di campur dengan fosfat alam (rock phospat) sebanyak 25 gram per polibeg, setinggi 2/3 bagian polibeg
  • Buatlah parit sedalam 10 cm (selebar dua ukuran polibeg)
  • Polibeg disusun dua baris di dalam parit yang sudah disiapkan.
  • Tanamkan stum mata tidur tepat ditengah polibeg, lalu diisi dengan tanah yang sudah dicampur fosfat alam sedikit demi sedikit sampai leher akar, sambil dipadatkan dengan tangan.
  • Penyiraman dilakukan secara teratur dan dipupuk setiap bulan sesuai anjuran, yaitu umur 1-3 bulan diberi pupuk Urea = 5 gram/pohon, SP 36 = 6.25 gram/pohon, KCl = 2 gram/pohon dan Kieserit = 2 gram/pohon.
  • Sangat penting diperhatikan, bahwa semua tunas yang tumbuh bukan dari mata tempelan (mata liar) harus dibuang dan diperiksa 1 x 2 minggu.
  • Bibit dipelihara sampai pertumbuhan tunas mencapai satu payung daun (2 bulan) atau dua payung daun (4 bulan).
  • Pada saat pemindahan bibit ke lapangan, akar yang menembus polibeg harus di potong, dan waktu pemindahan terbaik adalah pada saat pertumbuhan dua payung daun tua (mengeras). Jangan lakukan penanaman ke lapangan dalam keadaan tumbuh tunas muda atau daun muda.
Pembibitan Batang Bawah di Polibeg
Selain pembibitan batang bawah di lapangan, penanaman biji untuk batang bawah juga dapat dilakukan langsung di polibeg. Pengokulasian bibit dalam polibeg bertujuan untuk meringankan biaya pengolahan tanah di lapangan. Tahapan pembuatan bibitan polibeg adalah sebagai berikut :
  • Polibeg berukuran 25 cm x 40 cm dipersiapkan dan diisi dengan tanah top soil (tanah bagian permukaan 10-15 cm) di campur dengan pupuk fosfat alam sebanyak 50 gram per polibeg.
  • Buatlah parit sedalam 10 cm (selebar dua ukuran polibeg)
  • Polibeg disusun di dalam parit yang sudah disiapkan
  • Sebelum dilakukan penanaman kecambah harus di seleksi dan dilakukan penanaman di tengah-tengah polibeg
  • Bibit batang bawah ini dipelihara sampai umur 6-8 bulan
  • Bibit diokulasi dalam polibeg dengan posisi jendela okulasi menghadap ke luar.
  • Setelah okulasi jadi, potonglah batang miring ke arah belakang pada ketingian 10-15 cm di atas pertautan okulasi
  • Mata okulasi dibiarkan tumbuh dan dipelihara dengan baik sampai satu atau dua payung penuh
  • Penunasan mata tunas liar dilakukan dua minggu sekali
  • Pada saat pemindahan bibit ke lapangan, akar tunggang yang menembus polibeg harus di potong, dan untuk pembibitan langsung di polibeg, waktu pemindahan dapat dilakukan pada stadia pertumbuhan satu payung daun tua. 
Lanjut Ke BAG V, TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KARET 

BAG III, TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KARET

BAG III, TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KARET

OKULASI
Okulasi adalah suatu proses penempelan mata tunas dari klon-klon anjuran pada batang bawah yang terpilih sehingga dapat memberikan hasil sesuai harapan. Pelaksanaan okulasi pada tanaman karet ada dua jenis yang didasarkan pada ukuran diameter batang bawah dan umur batang bawah. Okulasi hijau umur 4-5 bulan dengan diamter 1.1-1.3 cm dan okulasi coklat umur 10-12 bulan dengan diameter 1.5-2.5 cm. Umur entres disesuaikan dengan batang bawah.

Bahan dan Alat yang digunakan untuk okulasi adalah :
  • Kain lap
  • Pisau okulasi
  • Plastik/verban okulasi
  • Kolter/TB 192
  • Gunting stek
Dalam pelaksanaan okulasi ada beberapa tahapan untuk mendapatkan batang bawah yang baik tahapan-tahapan tersebut adalah :

a. Ketersediaan batang bawah yang akan diokulasi
Batang bawah dipersiapkan melalui pembibitan biji (bab sebelumnya) dan baru bisa diokulasi apabila memenuhi syarat pertumbuhan sesuai jenis okulasi.

Untuk pelaksanaan okulasi coklat dapat dilakukan sebagai berikut :
  • Ukuran diameter batang tanaman 1.5-2.5 cm diukur pada ketinggian 5 cm Pertumbuhan daun payung yang paling atas dalam keadaan tua
  • Tanaman tidak terserang penyakit
b. Pembuatan jendela okulasi
Pembuatan jendela okulasi dilakukan pada batang bawah yang telah memasuki kriteria okulasi diatas. Tujuan dari pembuatan jendela okulasi ini adalah untuk menempelkan mata tunas/entres dari klon yang diinginkan. Pembuatan jendela okulasi terdiri dari beberapa langkah yakni :
  • Membersihkan batang bawah dari kotoran tanah atau pasir yang dapat mengganggu penyatuan entres dengan batang bawah dengan lap bersih
  • Mengiris batang bawah dengan dua irisan vertikal yang sejajar dengan panjang 5 cm dan lebar 1/3 lilit batang bawah pada ketinggian 5-10 cm dari permukaan tanah. Jika terlalu dekat dengan tanah akan semakin memperkecil keberhasilan okulasi
  • Membuat potongan melintang pada salah satu ujung garis sejajar yang telah dibuat. Potongan melintang dapat dibuat pada ujung atas untuk bukaan bawah atau ujung bawah garis sejajar untuk bukaan atas.

c. Membuat perisai mata okulasi
Perisai okulasi adalah mata okulasi yang diambil dari batang entres untuk ditempelkan pada jendela okulasi. Tahapan kegiatannya adalah sebagai berikut :
  • Menyiapkan perisai okulasi dari batang entress yaitu dengan mengiris entres yang bermata baik (mata yang berada pada ketiak daun) dengan ukuran lebar 1-2 cm dan panjang 5 cm. Ukuran perisai harus lebih kecil dari jendela okulasi yang telah dibuat, hal ini bertujuan agar terjadi sirkulasi udara pada okulasi yang dibuat.
  • Penyayatan perisai okulasi harus diikut sertakan sedikit bagian kayu
  • Perisai yang baik apabila di bagian dalam kulitnya terdapat titik tumbuh putih yang menonjol. Apabila bagian dalam kulitnya berlubang berarti matanya tertinggal pada bagian kayu dan perisai tidak boleh ditempelkan ke batang bawah.
d. Penempelan perisai mata okulasi
Penempelan perisai mata okulasi dilakukan segera setelah jendela okulasi dibuka dan perisai okulasi harus dalam keadaan tidak bergerak, lalu jendela okulasi di tekan dan bagian ujung nya dipotong dan dibuang, kemudian jendela okulasi ditutup dan siap dibalut.
e. Pembalutan dengan verban okulasi
Agar mata okulasi tidak bergerak dan menempel baik dengan batang bawah serta agar tidak terkena air hujan dan kotoran maka perisai okulasi harus dibalut kuat dengan verban/plastik okulasi

f. Pembukaan Verban dan Pemeriksaan Okulasi
Pemeriksaan okulasi dilakukan pada umur 21 hari dan umur 28 hari. Okulasi yang telah berumur 21 hari dibuka verban okulasinya dan diperiksa apakah tunas okulasi hidup atau tidak. Verban dibuka dengan cara memotong verban dengan pisau atau cutter tegak lurus ke arah atas. Potongan harus berada di sebelah belakang bagian okulasi. 
Okulasi yang berhasil ditandai dengan perisai yang masih hijua apabila digores sedikit dan perisai masih terlihat segar. Apabila menunjukkan warna hitam dan perisai terlihat membusuk berarti okulasi tidak berhasil. Okulasi yang berhasil diberi tanda berupa ikatan plastik untuk membedakan okulasi yang berhasil dengan okulasi yang tidak berhasil. Lebih kurang satu minggu setelah buka verban pemeriksaan yang kedua dilakukan tujuannya untuk benar-benar memastikan keberhasilan okulasi. Keberhasilan okulasi selain ditentukan oleh tenaga kerja okulasi ditentukan juga oleh keadaan cuaca terutama hari hujan.

g. Pembongkaran bibit
Apabila ingin dibongkar dengan cangkul, 7 hari setelah okulasi jadi, dilakukan penyerongan batang bawah dengan ketinggian 10-15 cm di atas pertautan okulasi menggunakan gergaji serong, dengan kemiringan 45 derajat berlawanan arah mata okulasi dan diolesi dengan kolter/TB 192. Setelah 7-10 hari dan mata okulasi membengkak dilakukan pembongkaran. Setelah tercabut maka akar lateral ditinggalkan sepanjang 5 cm dan akar tunggang dipotong sehingga tinggal sepanjang 25-30 cm. Apabila menggunakan dongkrak bibit maka 2-3 minggu sebelum dicabut batang bawah dipotong/dipotes pada ketinggian 70 cm dari permukaan tanah. Hasil okulasi yang didapatkan dari pembibitan batang bawah seperti tersebut di atas disebut dengan stum mata tidur.

h. Seleksi Stum Okulasi Mata Tidur
  • Stum yang akar tunggangnya terserang jamur akar putih, mata okulasi rusak, akar bercabang banyak (menjari), akar bedenggol atau bengkok (muntir) tidak dipakai sebagai bahan tanam. Bila akarnya bercabang dua atau tiga maka satu atau dua akar yang terkecil dipotong dan lukanya diolesi dengan TB 192, sehingga dapat dipakai sebagai bahan tanam.
  • Bibit stum okulasi mata tidur selanjutnya dapat dianjurkan sebagai bahan tanam setelah terlebih dahulu ditumbuhkan didalam polibeg sampai mencapai stadia satu atau dua payung daun. 
Lanjut Ke BAG IV, TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KARET 

October 30, 2014

BAG II, TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KARET

Pemeliharaan Tanaman di Bibitan
Pemeliharaan bibitan terdiri dari empat kegiatan yaitu penyulaman/penyisipan, pengendalian gulma, pengendalian hama penyakit dan pemupukan.

Penyulaman atau penyisipan bertujuan untuk mengganti tanaman yang mati atau kerdil/tidak normal pertumbuhannya. Penyisipan dapat dilakukan pada saat tanaman di bibitan berumur paling lama 1-2 minggu dengan menggunakan kecambah pertumbuhan stadia jarum.

Lahan bibitan harus bebas dari gulma agar pertumbuhannya tidak terganggu. Penyiangan gulma yang tumbuh dapat dilakukan dengan manual (rotasi 1x2 minggu) tergantung dari banyak tidaknya gulma yang tumbuh di lapangan, penggunaan herbisida pada tanaman yang masih muda tidak dibenarkan karena dapat menyebabkan kematian pada tanaman karet.

Untuk mencegah timbulnya hama dan penyakit yang sering merusak bibitan karet seperti Colletotrichum dan Helmintsosporium dapat diberi obat Dithane M-45 dengan dosis 2 gram/liter/rotasi (1x2 minggu). Untuk mencegah timbulnya serangan jamur akar putih (JAP) pada umur 2-6 bulan dapat dilakukan aplikasi biofungisida Triko SP plus dengan dosis 600 Kg/ha, di tabur disekitar barisan tanaman. Kemudian di tutup dengan tanah menggunakan cangkul. Beberapa hama yang sering menyerang bibitan karet adalah jangkrik, rayap dan tungau untuk menenggulanginya dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida yang yang tepat seperti Sevin 85S.

PEMBANGUNAN KEBUN ENTRES

Klon Karet Unggul
Kemajuan penelitian karet selama empat siklus seleksi telah mampu menghasilkan klon karet unggul yang dapat dibagi kedalam tiga kategori yaitu :
  1. Klon penghasil lateks : Klon yang mamiliki ciri potensi hasil lateks sangat tinggi tetapi hasil kayu sedang.
  2. Klon penghasil lateks-kayu : Klon yang memiliki ciri potensi hasil lateks tinggi dan hasil kayu juga tinggi.
  3. Klon penghasil kayu : Klon yang memiliki ciri potensi hasil lateks rendah tetapi hasil kayu sangat tinggi.
Untuk periode tahun 2004 – 2010, telah dirumuskan klon karet anjuran untuk penanaman sebagai berikut :
  • Klon penghasil lateks : BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217, PB 260.
  • Klon penghasil lateks-kayu : BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112, IRR 118.
  • Klon penghasil kayu : IRR 70, IRR 71, IRR 72, IRR 78
Persyaratan pembangunan kebun entres

a. Lokasi kebun entres
Areal yang memenuhi syarat untuk pembangunan kebun entres, sebaiknya memiliki syarat sebagai berikut :
  • Lokasi datar dan tidak tergenang air pada saat hujan, areal dengan kemiringan 3-5% dapat digunakan, tetapi perlu dibuat drainase yang baik
  • Dekat dengan jalan utama agar memudahkan pengangkutan, pengawasan dan pengiriman kayu entres
  • Lahan memiliki sifat fisik yang baik (gembur)
b. Penanaman bibit untuk kebun entres
Bahan tanaman dapat berupa stum mata tidur atau bibit polibeg berpayung satu atau dua. Penanaman dengan stum mata tidur harus pada musim hujan. Pemancangan dilakukan dengan jarak tanam 1x1 m segi empat, kemudian dibuat lubang tanaman berukuran 60 x 60 x 40 cm. Dalam satu hektar kebun entres memiliki tegakan 8000 – 9000 pohon dan mampu menghasilkan mata tunas lebih kurang 600.000 mata. Setiap klon ditanam dalam satu petak dan diberi nomor, dalam satu petak dapat dibuat 5 baris 40 pohon.

c. Pemeliharaan
Penyiangan
Keadaan kebun entres harus bersih dari rerumputan, penyiangan dapat dilakukan secara manual 3 minggu sekali atau secara kimia dengan herbisida 3 bulan sekali, menggunakan herbisida round up dengan dosis 0.2% (2 cc/1 liter). Penyemprotan dilakukan setelah tanaman mencapai 5-6 payung.

Pemupukan
Dosis yang di berikan secara umum adalah sebagai berikut :
  • Tahun I : 50 gram urea, 50 gram SP 36, 10 gram KCl dan 5 gram Kieserit
  • Tahun II : 75 gram urea, 75 gram SP 36, 25 gram KCl dan 10 gram Kieserit
Aplikasi dua kali setahun, setiap pemberian setengah dosis dalam setahun. Letak tabur pupuk melingkar mengelilingi batang dengan radius 1m dari pohon.

Pengendalian penyakit
Sama dengan pengendalian penyakit di pembibitan batang bawah.

Pemanenan/pemangkasan
Kayu okulasi hijau di panen pada umur 4-5 bulan dan okulasi coklat umur 10-12 bulan. Pemangkasan pertama dilakukan saat tanaman berumur 10 bulan dengan ketinggian 40-60 cm. Setelah pemangkasan dilakukan, pada umur 3-4 minggu akan muncul tunas baru, untuk itu perlu dilakukan seleksi dengan meninggalkan dua sampai tiga cabang. Pemangkasan pada tahun berikutnya lebih kurang 15 cm dari pangkal tunas karangan mata.

Peremajaan kebun entres
Kebun entres dapat dipertahankan sampai umur 10 tahun kemudian dilakukan peremajaan. Berdasarkan pengamatan di lapangan kebun okulasi yang berumur lebih dari 10 tahun memperlihatkan kemunduran dalam pertumbuhan.

Lanjut Ke  BAG III, TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KARET

BAG I, TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KARET

TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KARET
Disampaikan pada :
Pertemuan Sosialisasi Kegiatan Pengawalan Peremajaan Karet Non Revitalisasi Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara
Medan, 21 Nopember 2008

PENDAHULUAN
Tanaman karet (Hevea brasilliensis ) adalah merupakan tanaman tahunan. Satu siklus tanam yang dihitung dari saat menanam di lapangan sampai peremajaan memakan waktu ± 25 tahun. Hal ini berarti bahwa pemilihan bahan tanam/bibit tanaman dilakukan sekali dalam 25 tahun. Pemilihan bahan tanam harus dipertimbangkan secara cermat karena adanya kekeliruan dalam pemilihan bahan tanam akan berdampak negatif terhadap perkebunan dan terhadap usaha karet alam nasional.

Bahan tanam karet yang dianjurkan adalah bahan tanam klon yang diperbanyak secara okulasi. Dibandingkan dengan bibit semaian, penggunaan bahan tanam klon sangat menguntungkan karena produktivitas tanaman lebih tinggi, masa tanaman belum menghasilkan lebih cepat, keseragaman tanaman lebih besar sehingga produksi pada tahun sadap pertama lebih tinggi serta memiliki sifat sekunder yang diinginkan seperti relatif tahan terhadap penyakit tertentu, batang tegap, volume kayu per pohon tinggi dll.

Berkat kerja keras para pemulia tanaman karet, telah ditemukan klon-klon berpotensi produksi tinggi seperti klon RRIC 100, IRR 39, IRR 32, PB 330, PB 260, PB 340, BPM 109, IRR 118 dll. Produktivitas klon tersebut akan terwujud sepenuhnya di lapangan jika digunakan bahan tanam yang bermutu baik, serta diikuti dengan penerapan kultur teknik anjuran di lapangan. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa rata-rata produksi secara komersial adalah jauh dibawah potensi produksi klon. 
Produksi riel yang dicapai sekarang adalah 1.000- 1.500 kg karet kering/ha/tahun, sementara potensi klon dapat mencapai ± 2.500 kg karet kering/ha/tahun. Adanya kesenjangan tersebut diakibatkan oleh banyak faktor dan salah satu diantaranya adalah mutu bahan tanam. Bahan tanam bermutu baik ialah bahan tanam yang telah dianjurkan, berproduksi tinggi sesuai dengan potensinya, pertumbuhan cepat dan seragam sehingga dapat mempersingkat masa tanaman belum menghasilkan dan produksi pada awal penyadapan adalah tinggi.

Mengikuti norma-norma dan urutan pekerjaan dalam setiap tahap kegiatan dalam pengadaan bahan tanam adalah cara satu satunya untuk mendapatkan bahan tanam karet yang bermutu baik. Pekerjaan dari sejak pemilihan biji untuk batang bawah, pengecambahan, pembibitan batang bawah, pelaksanaan okulasi, pemilihan entres sampai pembibitan tanaman di polibeg harus mengikuti norma-norma yang telah ditetapkan. Kegiatan-kegiatan tersebut saling terkait, sehingga saling mempengaruhi satu sama lain. Kesalahan dalam pelaksanaan satu jenis kegiatan dapat menghasilkan bahan tanam yang tidak bermutu baik. Salah satu contoh yang paling nyata ialah jika mutu batang bawah yang dipakai tidak sesuai (dalam hal ini menyangkut mutu fisik, fisiologi dan genetik ), maka walaupun dilakukan okulasi dengan klon anjuran, produksi karet kering yang diperoleh dapat berkurang sebesar 15%-20% dari potensi klonnya. Banyak praktisi kurang menyadari hal ini karena menganggap bahwa hanya dengan melakukan okulasi, sudah dipeloleh bahan tanam bermutu baik.

Untuk mendapatkan bahan tanam yang bermutu baik, dibawah ini akan diuraikan urutan pekerjaan, norma-norma yang perlu diperhatikan dalam proses pengadaannya serta standar mutu benih yang dihasilkan. Jika semua standar mutu pada setiap kegiatan telah diterapkan, dapat dipastikan bahwa masa TBM menjadi lebih singkat 5-10 bulan dan produksi pada tahun sadap pertama meningkat 110-500 kg/ha/tahun. Potensi klon akan terealisasi secara komersial jika digunakan bahan tanam bermutu baik dan dipelihara di lapangan menurut standar kultur teknik.

PEMBIBITAN BATANG BAWAH
Penyiapan lahan bibitan

Persiapan dan pengolahan lahan yang baik akan mendukung dalam menghasilkan bahan tanam yang bermutu. Pengolahan lahan yang tidak baik akan menghasilkan tanaman yang berakar bengkok/tidak sempurna. Beberapa syarat yang baik untuk areal bibitan adalah :
  • Lahan rata, jika terpaksa harus menggunakan lahan yang miring maka harus dibuat teras gulud atau rorak untuk memperkecil erosi tanah, dengan catatan bahwa kemiringan maksimum 3%.
  • Dekat sumber air
  • Jauh dari jangkauan hewan ternak
  • Dekat dengan jalan agar mudah dalam pengangkutan
Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan dua cara yakni secara mekanis dengan menggunakan traktor (untuk bibitan skala besar) atau secara manual dengan mengunakan cangkul (untuk bibitan skala kecil).

Secara mekanis
Pengolahan lahan secara mekanis dapat dilakukan dengan dua kali bajak dengan selang waktu tiga minggu dan dua kali garu dengan selang waktu satu minggu pada kedalaman 40-50 cm.

Secara manual
Pengolahan lahan secara manual dapat dilakukan dengan cara mencangkul dengan kedalaman olah 40 cm – 50 cm

Hal yang perlu diperhatikan pada saat penyiapan lahan adalah lahan harus terbebas/bersih dari sisa-sisa akar dan kayu untuk mencegah penyebaran penyakit jamur akar putih. Setelah lahan siap tanam langkah selanjutnya adalah pengajiran/pemancangan yang disesuaikan dengan jarak tanam yang diinginkan. Jarak tanam yang biasa digunakan adalah pola tanam segi empat jarak tanam 25 cm x 25 cm x 50 cm (jarak tanam ganda), dalam satu hektar terdapat 100.000 tegakan

Pengumpulan dan Seleksi Biji

Untuk mendapatkan batang bawah yang baik, sumber biji yang digunakan juga harus baik. Biji berasal dari kebun monoklonal yang sudah berumur 10 – 20 tahun. Biji untuk batang bawah dianjurkan oleh Pusat Penelitian Karet yang berasal dari klon GT 1, AVROS 2037, PB 260 dan RRIC 100. Kebun sumber biji hendaknya mendapat perlakuan sebagai berikut : Satu bulan sebelum buah jatuh areal di bawah pohon dibersihkan dan dibebaskan dengan biji-biji yang lama. Kemudian pengumpulan biji dilakukan secara serentak setiap dua hari sekali. Biji yang sudah terkumpul tidak semuanya bernas dan berisi adakalanya kopong dan tidak bagus, untuk itu perlu dilakukan seleksi biji. Biji dapat diperoleh langsung dari Pusat Penelitian Karet di Sungei Putih atau dari penangkar benih resmi.

Seleksi biji dapat dilakukan secara manual dan visual dan menggunakan alat pental biji karet. Apabila dilakukan seleksi secara manual maka biji mempunyai ciri sebagai berikut :
  • Warna mengkilat
  • Permukaanya licin
  • Bentuk normal
  • Daya lentingnya tinggi dan nyaring apabila dijatuhkan di lantai
Uji kesegaran secara visual dapat dilakukan dengan cara membelah biji dan diamati endosperm dan kotiledonnya.
Biji yang baik mempunyai ciri sebagai berikut :
  • Apabila dibelah endosperm menunjukkan warna putih dan masih segar, serta kotiledon masih rapat (Kelas I).
  • Endosperm berwarna putih agak kekuningan, kotiledon terbuka tidak lebih dari 1 mm (Kelas II).
  • Jika endosperm berwarna kuning, kuning kehitaman serta lembek, berminyak maka biji sudah jelek dan tidak akan mampu tumbuh menjadi kecambah normal (biji afkir).
Dalam penyimpanan biji karet kadar air awal merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi daya tumbuh biji. Sebaiknya biji yang telah jatuh lebih dari tiga hari, dapat dilakukan perendaman satu malam sebelum disimpan untuk meningkatkan kadar air. Penyimpanan cukup dilakukan di area yang terlindung dari sinar matahari langsung, lama penyimpanan dapat mencapai 1 minggu dengan daya tumbuh 60%. Untuk pengiriman jarak jauh, pengawetan biji dapat dilakukan dengan menggunakan serbuk gergaji yang lembab. Volume serbuk gergaji yang dipakai 1/2 dari volume biji karet.

Pengecambahan/Penyemaian biji
Biji yang sudah dipilih dan diseleksi harus segera dikecambahkan dalam bedeng perkecambahan. Biji karet harus disemaikan dalam suatu media yang lembab dan tidak terkena sinar matahari langsung untuk mempermudah proses pengecambahan. Untuk itu perlu diberikan bedengan dengan media lembab dan ternaungi. Bedengan perkecambahan berbentuk persegi panjang berukuran lebar 1.2 m, panjang 10 m dengan kapasitas 10.000 biji. Media yang digunakan untuk pertumbuhan adalah pasir atau serbuk gergaji setebal 10 cm.

Bedengan diberi atap rumbia atau pelepah kelapa dengan ketinggian 1.5 meter dibagian Timur dan 1.2 meter di bagian Barat. Penanaman biji dilakukan dengan cara 2/3 bagian biji (bagian perut) dibenamkan dalam media pasir dan 1/3 bagian lagi (bagian punggung) berada di permukaan pasir. Biji ditanam berbaris dengan jarak antar barisan 1cm. Setelah di semai maka biji dalam bedengan harus disiram dengan air pagi dan sore hari dengan menggunakan gembor. Kecambah yang baik akan muncul pada umur 5 – 21 hari setelah penyemaian biji. Biji yang berkecambah di atas 21 hari sebaiknya tidak digunakan karena pertumbuhannya sudah tidak bagus. Lokasi semaian sebaiknya dekat dengan lahan bibitan untuk memudahkan dalam pemindahan dan penanaman.

Pemindahan dan Penanaman Kecambah

Kecambah diambil dari persemaian dengan hati-hati agar tidak merusak bakal akar. Stadia kecambah yang telah siap dipindahkan ke lahan bibitan apabila :
  • Sudah mencapai stadium bintang (umur 4-7 hari)
  • Sudah mencapai stadium pancing (umur 7-14 hari)
  • Sudah mencapai stadium jarum (umur 14-21 hari)
  • Sebelum ditanam kecambah harus diseleksi yaitu bebas dari dari infeksi jamur akar putih, tidak terserang hama dan pertumbuhan normal.
Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari untuk menghindari stress di lapangan. Pengangkutan kecambah menggunakan ember yang berisi air. Penanaman kecambah dilakukan dengan cara menugal tanah sedalam 5 cm dengan menggunakan kayu atau benda yang runcing. Akar harus berada seluruhnya di dalam tanah dan permukaan biji rata dengan tanah (biji jangan dilepas dari kecambah). Kemudian tanah di sekitar lubang di padatkan dengan hati-hati agar tidak merusak akar tanaman, lalu di siram untuk melembabkan. Penyiraman bibit harus dilakukan pada setiap pagi hari terutama pada musim kemarau.

Lanjut Ke BAG II, TEKNIS BUDIDAYA TANAMAN KARET

October 22, 2014

Sistematika Penulisan TUGAS AKHIR / SKRIPSI

a. Bagian Awal
i. Halaman Judul TA atau Skripsi
Meliputi informasi Judul TA atau Skripsi, Subjudul : Studi kasus atau Studi Literatur, tulisan : ”Tugas Akhir” atau “Skripsi”, Nama dan NPM mahasiswa, Logo institusi, Nama institusi, Jurusan, Program Studi dan tahun (seperti contoh pada lampiran)

ii. Lembar pengesahan
Untuk pengesahan laporan TA atau Skripsi oleh ketua Jurusan dan dosen pembimbing

iii. Abstrak
Adalah suatu sinopsis yang menggambarkan isi keseluruhan laporan TA atau Skripsi yang meliputi minimal empat paragraf. Paragraf pertama berisi tema pokok atau uraian singkat topik TA atau Skripsi. Paragraf kedua berisi batasan tema pokok dan alasannya. Paragraf ketiga berisi Metoda atau Teknik yang dipakai dalam TA atau Skripsi. Paragraf keempat berisi hasil yang telah dicapai dalam TA atau Skripsi serta kesimpulan sementara. Abstrak ditulis dalam satu spasi.

iv. Kata Pengantar
Berisi pernyataan penghargaan penulis kepada dosen pembimbing, dosen penguji, dosen-dosen lain yang terlibat dan pihak-pihak yang berjasa dalam penyelesaian penulisan TA atau Skripsi selain pihak keluarga

v. Daftar isi
Sesuai urutan penulisan mulai dari abstrak sampai lampiran

vi. Daftar gambar, tabel dan simbol (jika ada)

b. Bagian Inti
i. Bab I. Pendahuluan:
Berisi latar belakang, identifikasi dan batasan masalah, maksud dan tujuan, metodologi, waktu dan lokasi penelitian dan sistematika penulisan.

ii. Bab II. Landasan Teori
Berisi teori dasar yang mendukung penulisan TA atau Skripsi, mencakup metoda atau teknik yang digunakan, teori tentang permasalahan, uraian singkat perangkat implementasi yang dipakai, dan kerangka penyelesaian masalah. Contoh : Definisi SI yang sudah umum tidak perlu disertakan

iii. Bab III. Analisis Kebutuhan
Berisi penjelasan tentang hasil pendefinisian kebutuhan dari permasalahan yang dijadikan topik TA atau Skripsi berikut pemodelannya.

Contoh:
Untuk pengembangan program aplikasi sistem informasi :
  • Uraian singkat sejarah, struktur organisasi, fungsi unit organisasi
  • Prosedur pelaksanaan pekerjaan dari permasalahan
  • Uraian hasil analisis kebutuhan sistem informasi, meliputi: deskripsi kebutuhan informasi, deskripsi kebutuhan fungsional, dan pemodelan kebutuhan fungsional, (DFD, DD, dan P-Spec).
iv. Bab IV. Perancangan
Berisi penjelasan tentang hasil perancangan berikut pemodelannya.

Contoh:
Untuk pengembangan program aplikasi sistem informasi
  • Perancangan perangkat lunak meliputi arsitektur dan algoritma program
  • Perancangan antar muka perangkat lunak, meliputi struktur menu, tata letak layar, dan tata letak dokumen keluaran
  • Perancangan basisdata meliputi diagram E-R, struktur tabel, dan relasi antar tabel
v. Bab V. Implementasi (D3) atau Implementasi dan Pengujian (S1)
Berisi penjelasan tentang pelaksanaan implementasi berdasarkan pada hasil perancangan. (D3) dan pengujian program aplikasi atau kinerja SI (S1)

Contoh:

Untuk pengembangan program aplikasi sistem informasi (D3):
  • Lingkungan implementasi, meliputi penjelasan tentang perangkat keras, platform sistem operasi dan basis data, serta bahasa pemrograman yang digunakan.
  • Batasan implementasi
  • Implementasi modul program
  • Implementasi antarmuka
  • Implementasi basis data
  • Kasus uji dan tabel hasil pengujian (S1)
vi. Bab VI. Kesimpulan dan Saran
Berisi kesimpulan (hasil yang berhasil diselesaikan sesuai ruang lingkup batasan masalah) dan saran (terhadap masalah yang belum terselesaikan sebagai pengembangan dan perbaikan-perbaikan) tentang kasus TA atau Skripsi

c. Bagian Akhir
i. Daftar pustaka : Urutan buku atau informasi situs Internet atau sumber lain,
ii. Lampiran-lampiran, sesuai kasus TA./ Skripsi

CONTOH :
Tugas Akhir Program Diploma 3 / TA.D-3

Judul : ” Perancangan Sistem Informasi Penjualan Tunai Di PT. Niaga Umul Quro Bandung menggunakan Microsoft Visual Basic 6.0 ”

Contoh : Sistematika Penulisan TUGAS AKHIR / SKRIPSI

Sistematika Penulisan TA atau SKRIPSI

Sistematika Penulisan TA atau SKRIPSI

ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL

BAB I. PENDAHULUAN
  • 1.1 Latar Belakang Masalah
  • 1.2 Identifikasi Masalah
  • 1.3 Batasan Masalah
  • 1.4 Maksud dan Tujuan
    • 1.4.1 Maksud
    • 1.4.2 Tujuan
  • 1.5 Metodologi
    • 1.5.1 Metodologi Pengumpulan Data
    • 1.5.2 Metodologi Pengembangan Sistem
  • 1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
    • 1.6.1 Lokasi Penelitian
    • 1.6.2 Waktu Penelitian
  • 1.7 Sistematika Penulisan
BAB II. LANDASAN TEORI
  • 2.1 Analisis dan Perancangan Sistem Informasi
    • 2.1.1 Pengertian
    • 2.1.2 Teknik Analisis dan Perancangan Sistem Informasi
    • 2.1.3 Perangkat Analisis dan Perancangan Sistem Informasi
  • 2.2 Teori tentang masalah yg dibahas
    • 2.2.1 Sistem Penjualan
      • 2.2.1.1 Pengertian
      • 2.2.1.2 Macam-macam Penjualan
  • 2.3 Perangkat Implementasi Sistem
    • 2.3.1 Uraian singkat Bahasa Pemrograman Visual Basic 6.0
    • 2.3.2 Pemrograman Client Server dengan Visual Basic 6.0
BAB III. ANALISIS KEBUTUHAN
  • 3.1 Tinjauan Organisasi
    • 3.1.1 Sejarah singkat Organisasi
    • 3.1.2 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas
  • 3.2 Analisis Sistem ( Sistem berjalan/lama )
    • 3.2.1 Prosedur Kerja Sistem Penjualan
    • 3.2.2 Identifikasi Dokumen
      • 3.2.2.1 Dokumen Masukan
      • 3.2.2.2. Dokumen Keluaran
    • 3.2.3 Identifikasi Kebutuhan Pemakai ( Kebutuhan akan Sistem rancangan baru, Kemampuan akan sistem yang akan dibuat. )
  • 3.3 Analisis Kebutuhan Sistem ( Sistem rancangan yg baru )
    • 3.3.1 Kebutuhan Informasi
    • 3.3.2 Kebutuhan Aplikasi
    • 3.3.3 Kebutuhan Perangkat Keras
  • 3.4 Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak ( Sistem rancangan yg baru )
    • 3.4.1 Kebutuhan Fungsional Perangkat Lunak
    • 3.4.2 Pemodelan Kebutuhan Fungsional
      • 3.4.2.1 Diagram Konteks
      • 3.4.2.2 Diagram Alir Data
      • 3.4.2.3 Kamus Data
      • 3.4.2.4 Spesifikasi Proses
    • 3.4.3 Pemodelan Data Konseptual
  • 3.5 Kriteria dan Batasan sistem ( Sistem rancangan yg baru )*optional
BAB IV. PERANCANGAN
  • 4.1 Usulan Struktur Organisasi yg baru ( Bila ada )
  • 4.2 Perancangan Sistem Informasi
    • 4.2.1 Perancangan Prosedur Kerja Sistem Baru
  • 4.3 Perancangan Perangkat Keras
    • 4.3.1 Arsitektur Konfigurasi Perangkat keras
    • 4.3.2 Spesifikasi Perangkat Keras
    • 4.3.3 Spesifikasi Perangkat Lunak
  • 4.4 Perancangan Basis Data
    • 4.4.1 Keterhubungan Antar Tabel
    • 4.4.2 Deskripsi Tabel
  • 4.5 Perancangan Perangkat Lunak
    • 4.5.1 Arsitektur Perangkat Lunak
    • 4.5.2 Antar Muka Pemakai
    • 4.5.3 Algoritma Program
BAB V. IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN
  • 5.1 Lingkungan Implementasi
    • 5.1.1 Perangkat Keras
    • 5.1.2 Perangkat Lunak
  • 5.2 Hasil Implementasi
    • 5.2.1 Implementasi Basis Data
    • 5.2.2 Implementasi Modul Program
    • 5.2.3 Implementasi Antar Muka Pemakai
  • 5.3 Lingkungan Pengujian
    • 5.3.1 Perangakat Keras
    • 5.3.2 Perangkat Lunak
  • 5.4 Pelaksanaan Pengujian
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
6.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSILAMPIRAN-LAMPIRAN

October 17, 2014

BAG III, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET

Okulasi hijau/coklat.
Dalam pelaksanaan okulasi terdapat enam tahap utama yaitu : kesiapan batang bawah, pembuatan jendela okulasi, penyiapan perisai mata okulasi, penempelan perisai okulasi, pembalutan dan pemeriksaan hasil okulasi. Pada umumnya, untuk okulasi hijau dan coklat, batang bawah dipersiapkan melalui pembibitan lapangan. Tahapan okulasi untuk okulasi hijau dan okulasi coklat adalah sama , yang berbeda hanyalah umur batang bawah dan entres yang digunakan.

Kriteria matang okulasi batang bawah
  • Untuk okulasi coklat, batang bawah siap diokulasi bila lilit batang sudah mencapai 5 – 7 cm, diukur pada ketinggian 5 cm dari permukaan tanah. Tunas ujung dalam keadaan tidur/dorman atau pada stadia daun tua.
  • Untuk okulasi hijau, batang bawah siap diokulasi bila lilit batang sudah mencapai 3 – 4,5 cm, diukur pada ketinggian 5 cm dari permukaan tanah.
Pembuatan jendela okulasi.
  • Batang bawah dibersihkan dari kotoran/tanah dengan menggunakan kain bersih(Gambar 6a)
  • Batang bawah yang sudah bersih diiris vertikal 5-7 cm dari permukaan tanah, lebar 1/3 dari lilit batang
  • Dibuat potongan melintang diatas irisan vertikal dan dibukakan sedikit ujungnya (Gambar 6b).
Pembuatan perisai mata okulasi
  • Mata tunas yang akan diokulasi diambil dari entres klon unggul(Gambar 6e dan 6f) Klon unggul anjuran antara lain adalah PB 260, RRIC 100, PB 330, BPM 109,IRR39 dll.
  • Mata tunas diambil dengan pembuatan perisai mata okulasi.
  • Mata tunas yang diambil adalah mata yang berada di bekas ketiak daun (mata daun).
  • Perisai mata okulasi dibuat dengan mengiris kayu entres, ukuran lebar 1 cm dan panjang 5-7 cm . Setelah diiris, pada bagian dalam kulit ada titik putih yang menonjol, berarti mata ikut terambil.
Penempelan perisai mata okulasi.
  • Setelah perisai mata okulasi diambil, segera jendela okulasi dibuka dan perisai mata okulasi dimasukkan kedalam jendela.
  • Jendela okulasi ditekan perlahan dan bagian ujung perisai yang dipegang dipotong dan dibuang. Diusahakan agar perisai mata okulasi tidak bergerak-gerak agar mata okulasi tidak rusak.
  • Jendela okulasi kemudian ditutup dan siap untuk dibalut.
Pembalutan perisai mata okulasi.
  • Bahan untuk pembalut adalah pita plastik transparan.
  • Pembalutan dimulai dari bawah dan disimpulkan diatas. Balutan sedemikian rupa sehingga kuat dan terhindar dari masuk air hujan.
Pemeriksaan hasil okulasi.
  • Buka perban dilakukan setelah 3 minggu pengokulasian.
  • Jendela okulasi dibuka dengan cara memotong lidah jendela okulasi.
  • Keberhasilan okulasi dapat diketahui dengan cara membuat cukilan pada perisai mata okulasi diluar matanya. Jika cukilan itu masih berwarna hijau dan bergetah, maka okulasi dinyatakan berhasil.
  • Pemeriksaan hidup defenitif dilakukan satu minggu kemudian.
Makalah ini Terdiri dari 3 Bagian, yaitu :
  1. BAG I, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  2. BAB II, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  3. BAG III, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
Pencabutan bibit
  • Bibit yang telah berhasil okulasinya, kemudian dicabut, akar lateral dipotong sehingga panjangnya 5-10 cm, akar tunggang dipotong hingga panjangnya 35 cm dan batang diserong 5 – 10 cm diatas pertautan okulasi. Bibit seperti itu disebut bibit stum okulasi mata tidur (SOMT).
  • Pencabutan bibit dapat dilakukan dengan menggunakan cangkul atau dengan menggunakan alat dongkrak stum.
  • Jika menggunakan cangkul, satu sampai dua minggu sebelum bibit dicabut, bibit dipotong miring pada ketinggian 5 – 7 cm diatas pertautan okulasi. Bekas potongan diolesi dengan TB 192 atau parafin. Pada jarak 10 cm disisi pokok dibuat lobang pakai cangkul. Sisi lobang ke arah akar hampir menyentuh akar tunggang pada kedalaman 50-60 cm. Kemudian stum dengan akar terpotong dicabut. Dengan menggunakan cangkul dapat dicabut 100-125 pokok bibit per hari kerja.
  • Jika menggunakan alat dongkrak stum, 2 s/d 3 minggu sebelum bibit dicabut, bibit dipotong pada ketinggian 50-75 cm diatas pertautan okulasi. Bagian atas batang dijepit dengan alat dongkrak bibit. Kemudian bibit dicabut secara perlahan dengan cara mengungkit tangkai dongkrak bibit (Gambar 7). Dengan menggunakan dongkrak stum dapat dicabut 600 pokok bibit per hari kerja.
Seleksi stum okulasi mata tidur.
  • Setelah dicabut, akar lateral dirempel sehingga panjangnya 5-10 cm. Akar tunggang disisakan 35 cm. Bibit dipotong pada ketinggian 5-7 cm diatas pertautan okulasi dengan arah potongan miring kebelakang tempelan okulasi. Selanjutnya bekas potongan diolesi dengan TB 192 atau parafin. Bibit demikian disebut dengan Stum Okulasi Mata Tidur (Gambar 8.)
  • Stum yang akar tunggangnya terserang jamur akar putih, mata okulasi rusak, akar bercabang banyak (menjari), akar bedenggol atau bengkok (muntir) tidak dipakai sebagai bahan tanam. Bila akarnya bercabang dua atau tiga maka satu atau dua akar yang terkecil dipotong dan lukanya diolesi dengan TB 192, sehingga dapat dipakai sebagai bahan tanam.
  • Bibit stum okulasi mata tidur selanjutnya dapat dianjurkan sebagai bahan tanam setelah terlebih dahulu ditumbuhkan didalam polibeg sampai mencapai stadia satu atau dua payung daun.

BAB II, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET

Pembuatan bedengan pembibitan dan pemancangan.
  • Tujuan pembuatan bedengan adalah untuk mempermudah pengawasan, transportasi bahan dan alat, pelaksanaan pekerjaan dan untuk menghindari tercampurnya klon saat okulasi.
  • Panjang bedengan 48 m, lebar 2,5 m, menghadap Utara-Selatan. Jarak antar bedengan 70 cm.
  • Pada tiap bedengan ada sebanyak 8 baris bibit dengan jarak tanam (25 cm x 25 cm) x 50 cm (double row).
  • Jumlah titik tanam tiap bedengan 1636 titik.
  • Ditengah-tengah areal bibitan (jika luasnya ± 1ha) dibuat jalan selebar 4 m yang menghadap Timur-Barat dan Utara- Selatan.
  • Setiap hektar ada 60 bedengan, sehingga jumlah titik tanam adalah 92.160 per hektar.
  • Lahan bibitan selesai di pancang (Gambar 3a).
Penanaman kecambah, penyiraman dan penyisipan.
Makalah ini Terdiri dari 3 Bagian, yaitu :
  1. BAG I, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  2. BAB II, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  3. BAG III, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  • Setiap titik tanam, ditanam satu kecambah dengan cara menugal sedalam ± 5 cm. Diusahakan akar tidak putus.
  • Kecambah diangkut ke lapangan di dalam ember berisi air.
  • Penanaman dilakukan pagi hari s/d jam 10.30 wib atau sore setelah jam 15.30 wib.
  • Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari (terutama jika tidak turun hujan) pada bulan pertama sejak tanam.
  • Penyisipan sesegera mungkin, dan dihentikan setelah bibit berumur ± 2 minggu.
Penyiangan pembibitan.
  • Penyiangan pakai garuk, rotasi 2-3 minggu, tergantung pada keadaan pertumbuhan gulma.
  • Penyiangan pakai herbisida tidak dibenarkan terutama pada bibit berumur muda.
Pemupukan pembibitan
  • Anjuran pemupukan tanaman di pembibitan batang bawah adalah sebagai berikut :
No.
Umur (bulan)
Dosis (gr/pohon)
Urea
TSP
KCl
Kieserit
(46%N)
(46% P2O5)
(60%K2O)
(27% MgO)
1
1
1,63
1,67
0,54
0,74
2
3
3,26
3,33
1,10
1,48
3
5
4,89
5,00
1,60
2,22
4
7
4,89
5,00
1,60
2,22
Keterangan : Bila pembibitan dipelihara pada umur yang lebih lanjut, pemupukan pakai dosis no.4 setiap dua bulan.
  • Jika menggunakan pupuk majemuk N-P-K-Mg (15-15-6-4), dosis yang dipakai adalah 5; 10; 15 dan 15 g/pohon untuk umur masing-masing 1; 3; 5 dan 7 bulan .
  • Pada pemupukan pertama, pupuk diberikan secara melingkar disekeliling pohon dan jangan sampai terkena pohon. Pada pemupukan selanjutnya, pupuk ditebar diantara barisan pohon (Gambar 4).
Pengendalian Penyakit di pembibitan.
  • Penyakit yang sering menyerang bibit karet yaitu: Colletotrichum gloeosporioides, Oidium heveae dan Corynespora cassicola.
  • Serangan penyakit gugur daun Colletotrichum dimulai pada saat terjadi pembentukan daun muda setelah musim meranggas. Daun yang sangat muda bila terserang penyakit akan melinting dan berubah warna menjadi hitam, kemudian gugur daun dan ujung tunas gundul. Bercak yang terjadi pada ujung daun atau tepi daun akan menyebabkan cacat daun (Gambar 5a,b,c). Pengendalian penyakit dilakukan dengan menggunakan Dithane M-45 konsentrasi 0,3% atau 0,2 % Daconil 75WP. Penyemprotan dilakukan pada saat pertumbuhan daun muda, sebanyak 3-4 rotasi dengan interval waktu 5 hari. Diperlukan 1,5 kg dithane M-45 atau 1 kg Daconil 75 WP per hektar per rotasi.
  • Serangan Oidium yang terjadi pada saat pertumbuhan daun muda dapat menyebabkan daun gugur kembali. Pertumbuhan daun muda yang bertepatan dengan musim kering panjang akan mengalami serangan Oidium yang berat. Serangan Oidium akan berulang selama terjadi pembentukan daun muda dan akan hilang dengan turunnya hujan. Pada daun yang terserang bercak-bercak putih kekuningan, disertai dengan benang-benang jamur. Pemberantasan Oidium dengan cara pendebuan menggunakan serbuk belerang murni. Pendebuan dilakukan pada awal pembentukan daun-daun baru, sebanyak 3-6 rotasi dengan interval 5-7 hari, menggunakan alat pendebu portable dosis 4-6 kg belerang/ha/rotasi.
  • Gejala penyakit gugur daun Corynespora pada daun yang lebih tua adalah adanya jamur membentuk bercak coklat tua sampai hitam. Urat-urat daun tampak lebih gelap daripada sekelilingnya sehingga bercak-bercak tersebut tampak menyirip seperti ikan (Gambar 5g). Penyakit ini diberantas dengan cara penyemprotan 0,2% Dithane M-45 (1,6 kg/ha/rotasi) atau 0,1% Calixin 750 EC (1 – 1,5 kg/ha/rotasi).
Pengokulasian
Berdasarkan umur dan jenis mata okulasi yang dipakai, okulasi dibedakan menjadi 3 bagian yaitu okulasi dini, okulasi hijau dan okulasi coklat. Perbedaan ketiga jenis okulasi tersebut adalah sebagai berikut :

Teknik Okulasi
Umur batang Bawah (Bulan)
Umur, ukuran dan warna entres.
Jenis mata okulasi
Okulasi Dini
2 – 3
7-8 minggu, garis tengah 0,5 cm, hijau muda.
Mata sisik atau mata daun yang telah dirempel tangkainya 3 minggu sebelum pakai.
Okulasi Hijau
4 – 6
5-6 bulan, garis tengah 1–1,5 cm, hijau
Mata daun.
Okulasi Coklat
12-Jul
8 – 12 bulan, garis tengah ± 2,1 cm, coklat.
Mata daun
Okulasi Dini.
  • Biasanya pada okulasi dini, batang bawah dipelihara didalam polibeg.
  • Ukuran polibeg dalam keadaan terlipat 15 cm x 37 cm.
  • Polibeg dilobangi sebelum diisi tanah.
  • Polibeg diisi tanah bagian atas (top soil).
  • Sebanyak 50 g Rock phosphat per polibeg dicampur dengan tanah sebelum diisi.
  • Lokasi bibitan dekat dengan sumber air yang cukup, datar dan dekat dengan jalan/kantor.
  • Polibeg disusun dengan terlebih dahulu membuat parit lobang sedalam 15 cm. Di parit/lobang ini, polibeg disusun double row. Jarak antara dua double row berurutan adalah 60 cm.
  • Satu kecambah yang telah disemaikan sebelumnya (stadia pancing atau jarum) ditanam pada setiap polibeg.
  • Penyiraman dilakukan setiap hari terutama jika tidak turun hujan.
  • Pemupukan menggunakan pupuk majemuk N-P-K-Mg 15-15-6-4 dengan dosis 7,5 g; 10 g dan 15 g/phn pada umur masing-masing 1, 2 dan 3 bulan.
  • Pengendalian penyakit daun sama dengan pengendalian penyakit daun di pembibitan lapangan.
  • Pada saat pengokulasian, mata entres yang digunakan adalah mata sisik yang diambil dari entres muda (berumur 7-8 minggu). Mata daun dapat dipakai, tetapi 3 minggu sebelum dipakai, tangkai daun dirempel dulu.
  • Umur batang bawah pada saat okulasi 2 – 3 bulan ditandai dengan 2 payung daun hijau.
  • Pisau okulasi yang dipakai ialah pisau okulasi yang ukurannya lebih kecil dari pisau okulasi yang lazim digunakan untuk okulasi hijau/coklat.
  • Pada batang bawah yang dilap terlebih dahulu, dibuat jendela okulasi selebar 0,3 s/d 0,4 bagian keliling batang atau kira-kira 4 mm. Panjang jendela ± 4 cm.
  • Entres dipotong dibawah kumpulan mata sisik. Entres diambil dari kebun entres yang dipersiapkan terlebih dahulu.
  • Mata entres dipilih yang tidak cacat, lalu dibuat torehan dengan lebar yang sesuai dengan jendela yang telah dibuka.
  • Pada saat penempelan perisai, jendela dibuka dari atas sepanjang ± 4 cm dipotong bagian bawah. Disisakan untuk parit perisai. Perisai ditempatkan pada jendela yang telah dibuka. Pembalutan dengan pita plastik dimulai dari bawah ke atas secara ketat.
  • Pembalut dibuka 21 hari setelah pengokulasian. Jika perisai tetap hijau, berarti okulasi berhasil. Pemeriksaan diulangi satu minggu kemudian untuk mengetahui hasil okulasi yang pasti.
  • Tujuh hari setelah pemeriksaan terakhir okulasi jadi, bibit dipotong pada ruas pertama.
  • Untuk mempercepat tumbuhnya mata okulasi, wiwil terhadap tunas liar yang tumbuh dari batang bawah segera dilakukan, dengan rotasi setiap minggu.
  • Mata okulasi yang tumbuh dipelihara terus di polibeg sampai stadia 1 – 2 payung daun. Tanaman ini siap dipindah ke lapangan sebagai bahan tanam.
  • Bibit yang okulasinya tidak jadi disusun lagi dan dapat diokulasi hijau pada umur selanjutnya.

BAG I, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET

TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
Aidi Daslin dan Nurhawaty Siagian
Balai Penelitian Sungei Putih
Pusat Penelitian Karet

Tanaman karet diperbanyak dengan cara okulasi. Penggunaan bibit semaian sebagai bahan tanam di lapangan tidak dianjurkan karena produksi rendah, keragaman tinggi dan masa tanaman belum menghasilkan lebih lama. Didalam teknik okulasi, mata okulasi yang diperoleh dari kebun kayu okulasi ditempelkan ke tanaman sejenis yang dipelihara di pembibitan batang bawah. Untuk mendapatkan bahan tanam karet yang bermutu baik, pembangunan dan pemeliharaan bibit batang bawah dan kebun kayu okulasi harus mengikuti norma dan anjuran. Sebelum dilakukan pengokulasian, bibit batang bawah dibangun dan dipelihara dengan baik di lahan pembibitan. Batang bawah diperbanyak dengan menggunakan benih yang berasal dari klon-klon anjuran.

Benih untuk batang bawah.
  • Biji dari klon anjuran AVROS 2037, GT 1, RRIC 100 dan PB 260.
  • Biji dipungut dari kebun produksi yang sudah berumur minimal 10 tahun
  • Daya kecambah/kesegaran minimal 70%.
  • Warna biji karet mengkilat, tidak cacat dan bernas.
Syarat lokasi bedengan perkecambahan
  • Topografi rata.
  • Dekat dengan jalan, sumber air dan pembibitan batang bawah serta mudah dilalui.
  • Memiliki naungan (buatan ataupun alamiah).
Pembangunan bedengan perkecambahan.
  • Bedengan dibuat dengan lebar 1,2 m dan panjang sesuai kebutuhan
  • Kotak bedengan dibuat dari papan yang diisi pasir (20 mesh) setebal 15 cm (Gambar 1b dan Gambar 1c).
  • Letak bedengan membujur Utara-Selatan dan jarak antar bedengan 1,5 m.
  • Pada tempat terbuka, bedengan diberi atap buatan dari daun lalang, menghadap ke Timur (depan) dengan tinggi 1,5 m dan belakang 1 m
  • Setiap meter bedengan dapat dikecambahkan 1000 butir.
Pendederan benih.
  • Benih ditanam dalam media pasir
  • Dua pertiga bagian perut biji terbenam dan sepertiga bagian punggung biji tetap muncul di permukaan.
  • Biji ditanam secara berbaris, jarak antar baris 1 cm dan dalam baris 0,5 cm (pakai mal).
  • Pintu lembaga menghadap ke satu arah dan selanjutnya ditutup dengan alang-alang.
  • Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari menggunakan gembor.
Syarat kecambah yang dipindah ke pembibitan.
  • Kecambah dalam stadia pancing atau jarum.
  • Kecambah berumur kurang dari 22 hari dari sejak semai.
  • Benih yang berkecambah setelah hari ke-21 dari sejak semai tidak dipakai.
  • Kecambah tidak terserang penyakit (Jamur Akar Putih)dan penyakit lainnya.
Syarat areal yang memenuhi untuk pembibitan batang bawah
  • Areal rata dan dekat dengan sumber air yang cukup.
  • Dekat dengan kantor dan jalan besar untuk memudahkan pengamatan.
  • Tanah berstruktur dan tekstur yang baik dan cukup gembur.
  • Bebas dari serangan hewan.
Penyiapan lahan pembibitan.
Makalah ini Terdiri dari 3 Bagian, yaitu :
  1. BAG I, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  2. BAB II, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  3. BAG III, TEHNIK PENGADAAN BAHAN TANAM KARET
  • Satu sampai dua bulan sebelum pendederan benih, persiapan lahan untuk pembibitan harus sudah dimulai.
  • Penyiapan lahan dilakukan secara intensif dengan menggunakan alat-alat mekanik.
  • Pohon ditumbang dan dibongkar secara bersih.
  • Pengolahan tanah 2 kali ripping, 2 kali meluku dan satu kali menggaru.
  • Ripping I dan II menggunakan traktor rantai D-6 (yang sejenis), kedalaman pengolahan ³ 50 cm.
  • Ripping II dilakukan menyilang tegak lurus dari ripping I.
  • Luku I dan II pakai traktor ban dengan kedalaman pengolahan ³ 30 cm.
  • Setiap selang pengolahan waktunya adalah 2-3 minggu.
  • Menggaru pakai traktor ban.
  • Pada setiap selang pengolahan dilakukan ayap akar.
  • Kayu-kayu/akar ditumpuk di luar areal pembibitan.
  • Setelah luku II ditebar belerang 250 kg/ha (untuk mencegah JAP) dan pupuk dasar pospat alam 750 kg/ha.

KLON KARET ANJURAN LATEKS DAN KAYU

KLON KARET ANJURAN LATEKS DAN KAYU
Aidi Daslin
Balai Penelitian Sungei Putih

PENDAHULUAN
Peningkatan potensi tanaman untuk memproduksi lateks (sifat primer) dan perbaikan sifat-sifat lain yang menunjang produksi (sifat sekunder) diantaranya pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, mutu lateks dan sifat karet yang berlangsung pada siklus keempat memperlihatkan peningkatan potensi produksi, pemendekan masa TBM dan peningkatan potensi biomassa. Dengan adanya peluang-peluang untuk perbaikan genetik tanaman untuk sifat-sifat tersebut di atas memungkinkan budidaya karet tidak hanya mengharapkan hasil lateks tetapi juga lateks dan kayu.

Kegiatan pemuliaan karet yang sudah berjalan selama tiga generasi (1910-1985) telah menghasilkan klon-klon unggul, dengan potensi produksi karet lima kali lebih tinggi dari potensi produksi tanaman asal biji (+ 500 kg/ha/th). Sejalan dengan berkembangnya industri kayu karet, maka sasaran program pemuliaan adalah menghasilkan klon unggul yang memiliki potensi hasil lateks tinggi dan juga produksi kayu yang tinggi. Dari hasil kegiatan pemuliaan generasi keempat yang sedang berjalan saat ini, telah dihasilkan klon-klon unggul penghasil lateks-kayu yang telah direkomendasikan dalam anjuran bahan tanaman karet periode 2002 - 2004. Dari karakteristik dan arsitektur tanaman memperlihatkan bahwa klon-klon ini sangat berpotensi dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan kebun, baik dari segi hasil lateks maupun kayu.

KLON KARET ANJURAN
Adanya perubahan paradigma berkebun karet dari menghasilkan lateks menjadi menghasilkan kayu dan lateks , mendorong kegiatan pemuliaan untuk menghasilkan klon – klon unggul baru sebagai penghasil lateks maupun biomasa non - lateks. Kemajuan pemuliaan selama empat siklus seleksi telah mampu menghasilkan klon karet unggul yang dapat dibagi kedalam tiga kategori yaitu :
  1. Klon penghasil lateks : klon yang memiliki ciri potensi hasil lateks sangat tinggi tetapi hasil kayu sedang.
  2. Klon penghasil lateks-kayu : klon yang memiliki ciri potensi hasil lateks tinggi dan hasil kayu juga tinggi.
  3. Klon penghasil kayu : klon yang memiliki ciri potensi hasil lateks rendah tetapi hasil kayu sangat tinggi.
Untuk penanaman komersial mulai tahun 2002, telah dirumuskan klon karet anjuran sebagai berikut:

I. Klon Anjuran Komersial
  • Klon penghasil lateks : BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217, PB 260, PR 255, PR 261.
  • Klon penghasil lateks-kayu : BPM 1, PB 330, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 21, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 118.
  • Klon penghasil kayu : IRR 70, IRR 71, IRR 72, IRR 78.
  • Klon Harapan : IRR 24, IRR 33, IRR 41, IRR 54, IRR 64, IRR 68, IRR 107, IRR 111, IRR 220, PB 340.