Ads 468x60px

Pages

January 4, 2013

MANAJEMEN MUTU TERPADU DAN SEKOLAH EFEKTIF



Menuju Sekolah Efektif
Pendidikan merupakan proses untuk mengintegrasikan individu yang sedang mengalami pertumbuhan ke dalam kolektivitas di masyarakat. Dalam kegiatan pendidikan terjadi pembinaan terhadap perkembangan potensi anak untuk me­menuhi kelangsungan hidupnya secara pribadi dan kesejah­teraan kolektif di masyarakat. Sebagai usaha sadar, pendidikan diarahkan untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka mengisi peranan tertentu di masyarakat pada masa akan datang.
Dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia, sekolah memiliki peranan strategis sebagai institusi penyelenggara kegiatan pendidikan. Jalur penyelenggara pendidikan nasional diatur melalui jalur sekolah dan jalur luar sekolah termasuk pendidikan keluarga. Para orang tua berharap banyak terhadap peranan sekolah dalam mengembangkan potensi dan kemampuan anak menjadi manusia berguna. Sekolah juga bermuara pada tujuan utama pendidikan nasional, yaitu (1) mencerdaskan kehidupan bangsa dan (2) mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Mahaesa dan berbudi pekerti luhur, memiliki kemampuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Tujuan pendidikan yang diungkapkan tersebut menjadi arah bagi penyelenggaraan semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan, mulai pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Keberadaan sekolah menjadi institusi sosial yang menentukan pembinaan pribadi anak dan sosialisasi serta pembudayaan suatu bangsa. Scotter dkk. (1979) mengutip pendapat John Dewey yang meng­ungkapkan hubungan erat sekolah dan masyarakat. Dikemuka­kannya, pendidikan adalah embrio masyarakat berbudaya tinggi. Dalam praktiknya, sekolah menciptakan lingkungan pem­belajaran baru bagi pelajar, termasuk perpustakaan, lapangan olahraga, bidang pekerjaan, seni dan musik, laboratorium sains, taman dan tempat bermain. Di belakang kelas, sekolah menjadi pusat dinamika masyarakat.
Meskipun sekolah merupakan gejala universal dalam kehidupan manusia, tidak berarti sekolah dibiarkan tumbuh begitu saja. Dari waktu ke waktu, sekolah menghadapi berbagai perubahan dalam lingkungan eksterusal. Oleh karena itu, sekolah memerlukan pengelolaan yang baik agar menjadi bermutu. Di sini perlu dikemukakan fungsi sekolah sebagai institusi pendidikan yang diatur secara formal. Ben M.Harris (1975) dalam buku Supervisory Behavior in Education mengata­kan ada lima bidang fungsi sekolah yang dapat dijelaskan sebagai berikut.

1)      Mengajar
Fungsi ini merupakan pokok untuk mencapai tujuan utama keseluruhan operasional sekolah. Usaha mengajar berhubungan dengan pengajaran dan juga berhubungan dengan murid secara langsung. Mengajar ialah bekerja bersama murid menuju tercapainya tujuan pengajaran.

2)      Pelayanan khusus kepada siswa
Fungsi ini mencakup usaha yang secara tinggi berhubungan dengan murid, tetapi tidak berhubungan dengan pengajaran. Pelayanan khusus kepada murid antara lain memberikan perawatan, konseling, psikologi, bus angkutan, dokter, dan alat-alat seperti halnya guru di kelas yang merupakan bidang fungsi sekolah.

3)      Manajemen
Fungsi ini merupakan ciri usaha yang tidak berhubungan dengan pengajaran dan juga kepada murid. Usaha ini merupakan kewajiban urusan manajer, kepala sekolah, pengawas, dewan sekolah, dan pengawas seperti halnya guru-guru dalam kelas. Manajemen dalam pengertian ini bukan hanya dalam bisnis, tapi juga memberikan dukungan pelayanan dalam kegiatan organisasi sekolah.

4)      Supervisi
Fungsi ini adalah bidang yang mencakup hubungan dengan pengajaran, tetapi juga berhubungan dengan murid. Pekerjaan supervisor, koordinator, konsultan, ahli kurikulum, kepala sekolah dan guru kelas, semuanya mempengaruhi pengajaran. Usaha dan pengajaran juga memberikan pengaruh tidak langsung kepada pembelajaran murid. Supervisi memberikan dukungan pelayanan kepada fungsi pengajaran secara tinggi yang berhubungan dengan pengajaran bagi anak-anak.

5)      Administrasi
Bidang administrasi umum dalam operasional sekolah merupakan usaha secara erat yang berhubungan dengan pengajaran atau terhadap murid. Di sini ada koordinasi, fasilitas, pengawasan menjadi karakteristik pekerjaan kepala sekolah, direktur, pengawas, dan lainnya. Usaha ini tidak secara erat berhubungan dengan pengajaran dan murid.
Keseluruhan fungsi utama sekolah sebagaimana dikemuka­kan secara operasional berhubungan dengan pengajaran dan pembelajaran sebagai tujuan akhir. Dalam bagan ini diungkapkan bahwa pengajaran menjadi fungsi produktif dalam operasional sekolah. Pelayanan supervisi dan pelayanan khusus murid tampak secara langsung mendukung pengajaran. Sementara itu pelayanan manajemen cenderung kurang berhubungan langsung dengan pengajaran.


 












Lima fungsi sekolah tersebut dibagi pada dua dimensi fungsi utama dalam operasionalnya, yaitu dimensi yang berhubungan dengan pengajaran dan dimensi yang berhubungan dengan murid. Semua fungsi tersebut bermuara pada terjaminnya pencapaian tujuan. Ini pula yang membedakan sekolah dan institusi pendidikan lainnya dan pengaruh yang diberikan.
Dalam konteks manajemen sekolah, semua kegiatan sekolah harus dikelola dengan memanfaatkan semua sumber daya (re­sources) baik sumber daya manusia, material, dan dana dalam rangka mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan berarti pembelajaran efektif yang bermuara pada pengajaran dan pembelajaran yang menghasilkan murid berprestasi tinggi dan lulusan yang bermutu.
Apa yang dimaksud sekolah efektif? Sekolah efektif adalah sekolah yang dikelola dengan manajemen yang fungsional oleh kepala sekolah dengan memfungsikan secara bersama staf dan guru-guru dalam bekerja untuk mencapai tujuan sekolah. Adapun tujuan sekolah dirumuskan dari visi dan misi sekolah yang dibuat bersama oleh kepala sekolah, guru-guru, pegawai, dewan sekolah, orang tua murid, dan masyarakat. Seluruh komponen stakeholders sekolah dilibatkan dalam menyusun visi, misi, dan tujuan sekolah.
Apa karakteristik sekolah efektif? Menurut Rutterdkk. (Law dan Glover, 1994) sekolah efektif memiliki ciri-ciri, yaitu:
1)    memiliki etos sekolah yang baik,
2)    manajemen kelas yang baik,
3)    harapan guru yang tinggi,
4)    guru sebagai contoh teladan yang positif,
5)    umpan balik yang positif dan memberikan perlakuan terhadap siswa,
6)    koordinasi kerja yang baik antara guru dan pelajar,
7)    tanggung jawab murid, dan
8)    staf membagi aktivitas antara staf dan pelajar
Pada pokoknya ada tiga perspektif yang menentukan sekolah efektif, yaitu pertama, organisasi keberadaan sekolah yang dipengaruhi oleh faktor interusal dan ekstemal. Faktor in­terusal yang ada di sekolah adalah efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, profesionalisme guru, dukungan staf yang baik, pembiayaan yang cukup, sarana dan fasilitas pengajaran yang baik, dan iklim sekolah yang kondusif. Sedangkan faktor eksterusal adalah dukungan dewan sekolah (board of school), dukungan industri, pemerintah, ekonomi masyarakat, dan lingkungan sosial.
Kedua, proses seluruh aktivitas atau interaksi mengajar (guru) dan belajar (murid) yang bermuara pada pencapaian tujuan pendidikan. Di dalamnya melibatkan guru yang terampil, kurikulum, kesiapan murid, termasuk sarana mengajar dan belajar.
Ketiga, hasil, yaitu prestasi yang dapat diukur. Prestasi inilah yang dikaitkan dengan mutu. Prestasi dapat diketahui dari hasil belajar pada ujian caturwulan, ulangan harian, maupun ujian akhir naik kelas atau ujian belajar tahap akhir untuk penentuan kelulusan. Hasil ini tidak berarti hanya mengandalkan prestasi yang dapat diukur, akan tetapi hasil yang dapat diketahui dari sikap dan kepribadian pelajar, meskipun agak sukar mengukurnya. Karena alat ukur dimensi ini belum banyak, hanya guru yang mampu menggunakannya. Hal ini dapat dilakukan melalui observasi tingkah laku harian di sekolah maupun penggunaan skala sikap terhadap anak.
Untuk mencapai mutu sekolah efektif, maka kepala sekolah dan guru-guru juga harus menjalankan fungsi secara efektif. Kepala sekolah yang efektif ialah kepala sekolah yang menjalankan kepemimpinannya secara efektif. Oleh karena itu, efektivitas kepemimpinan kepala sekolah adalah mereka yang membuka diri untuk adanya pengaruh guru dan pegawai terhadap persoalan penting. Produktivitas akan dapat bertambah jika semua unsur personel bekerja di bawah payung seorang pemimpin yang memenuhi harapan mereka. Lewis (1987) menjelaskan kepemimpinan efektif ialah mereka yang dapat beradaptasi dengan situasi yang bervariasi yang akan menentukan keberhasilan pimpinan. Kepemimpinan yang berorientasi kepuasan personel seringkali disukai bawahan.
Untuk itu, komunikasi harus dikembangkan dalam berbagai peristiwa untuk mendorong efisiensi pekerjaan dan kepuasan pegawai dalam bekerja. Para guru dan pegawai merasa ikhlas melakukan tugasnya sebagai sesuatu yang wajar yang merupakan tanggung jawabnya dan mereka merasa pekerjaan dilakukan sesuai harapan mereka sendiri. Sebaliknya, kepemimpinan yang tidak efektif adalah kepemimpinan yang cenderung negatif, penuh kepalsuan, dan kepura-puraan di kalangan guru dan pegawai. Mereka cenderung lain kata lain perbuatan, tidak saling percaya, dan mengelak dari tanggung jawab. Hubungan dan komunikasi dengan pimpinan kurang berjalan dengan lancar, bahkan meng­abaikan aspirasi dan keterlibatan bawahan dalam pengambilan keputusan.
Kepemimpinan efektif berimplikasi terhadap produktivitas sekolah dan hal itu akan berlangsung lama. Di sini kinerja guru-guru dan pegawai menjadi indikator dan kepemimpinan efektif tersebut. Sekolah menjadi terkenal dan diminati oleh masyarakat karena menjanjikan pendidikan anak-anak yang berkualitas.
Sedangkan guru yang efektif ialah guru yang memberikan pelajar peluang-peluang maksimal untuk belajar. Dengan kata lain, efektivitas guru adalah dalam konteks mengajar. Mengajar efektif adalah kegiatan mengajar yang menciptakan iklim kondusif bagi pelajar untuk belajar dengan baik dan berhasil. Paling tidak guru terampil membuka pelajaran, terampil menjelaskan dengan berbagai metode, terampil memberikan penguatan pelajaran, dan terampil menutup pelajaran. Guru yang efektif juga sekaligus sebagai pendidik yang harus menempatkan diri sebagai teladan atau model dalam pandangan pelajar untuk mencapai tujuan pendidikan.
Apa usaha-usaha untuk menjadikan sekolah efektif? Di sini kepala sekolah memerlukan strategi manajemen yang menjanji-kan perbaikan mutu. Dalam terminologi organisasi, strategi adalah tindakan yang diambil untuk membangun dan mencapai tujuan-tujuan dan sasaran suatu organisasi. Oleh karena itu, strategi menawarkan kerangka kerja (frame work) yang mem-bimbing pilihan-pilihan yang menentukan sifat dasar dan arah suatu organisasi sekolah. Dengan kata lain, strategi ialah menentukan sesuatu yang benar untuk dilakukan (determin-ing the right thing to do).
Lewis dan Smith (1994) berpendapat bahwa tujuan strategi manajemen sebagai sesuatu yang berhubungan dengan peningkatan mutu berkelanjutan adalah membangun suatu organisasi strategi luas perbaikan mutu berkelanjutan dan membangun infrastruktur yang mendorong semua pegawai (guru dan karyawan) terpusat pada mutu dan bergerak dalam satu arah umum. Untuk itu, kepala sekolah, guru-guru, pegawai, dan dewan sekolah bergerak melalui usaha-usaha strategi manajemen yang mencakup visi, misi, tujuan, sasaran dan budaya, nilai, norma, dan sikap dan perilaku organisasi.
Sekolah efektif atau sekolah unggul (excellent school) berada dalam lapangan manajemen sekolah. Karakteristiknya menurut Edmonds (1979) dalam Beare dkk., (1989) sebagai berikut. (1) Guru-guru memiliki kepemimpinan yang kuat dan kepala sekolah memberikan perhatian tinggi terhadap perbaikan umum pengajaran. (2) Guru-guru memiliki kondisi pengharapan yang tinggi untuk mendukung pencapaian prestasi murid. (3) Atmosfir sekolah yang tidak kaku, sejuk tanpa tekanan dan kondusif dalam seluruh proses pengajaran atau suatu tatanan iklim yang nyaman. (4) Sekolah memiliki pengertian yang luas tentang fokus pengajaran dan mengusahakan efektivitas sekolah dengan energi dan sumber daya sekolah untuk mencapai tujuan pengajaran secara maksimal. (4) Sekolah efektif dalam menjamin kemajuan murid yang dimonitor secara periodik. Kepala sekolah dan guru-guru menyadari bahwa kemajuan prestasi pelajar berhubungan dengan tujuan pengajaran.
Sekolah dapat menjadi efektif dan sekaligus menjadi efisien. Sekolah efektif karena pencapaian hasil yang baik, sedangkan sekolah yang efisien ialah penggunaan sumber daya yang hemat. Untuk mengetahui indikator prestasi pelajar tentunya dilihat dari absensi (kehadiran), tingkah laku di sekolah, laporan kejahatan/ penyimpangan, dan hasil ujian negara. Sekolah yang unggul tersebut adalah sekolah yang efektif dan efisien dengan menjanjikan lulusan yang terbaik, keunggulannya secara kompetitif dan komparatif. Keunggulan kompetitif dimiliki oleh lulusan sejenis dalam jurusan yang sama, sedangkan komparatif oleh lulusan berbeda dari satu sekolah dengan sekolah lain.
Usaha-usaha untuk meningkatkan efektivitas sekolah dalam konteks pentingnya sekolah yang efektif sebagai sebuah gerakan menuju mutu terpadu sebagai berikut.
1)                  Efektivitas sekolah adalah tentang sekolah. Hal itu berimplikasi terhadap kelangsungan sekolah dan persekolahan dalam bentuk kekinian dan dalam kehadiran kerangka institusi sekarang ini.
2)                  Sekolah yang efektif berimplikasi terhadap keberadaan pengukuran hasil mengenai standar skor prestasi dalam membaca dan matematika. Kembali kepada nilai dasar, yaitu membaca dan menghitung dalam kurikulum.
3)                  Sekolah efektif juga memusatkan produktivitas, efisiensi, dan akuntabilitas. Konsekuensinya terkait dengan dimensi ekonomi.
4)                  Menentukan reaksi dalam membuat tujuan program dalam kehidupan kelas sosial, membuka kepercayaan terhadap alterusatif dari sekolah konvensional.
5)                  Sekolah efektif biasanya melibatkan beberapa jenis evaluasi dan review. Gerakan sekolah efektif berjalan dengan risiko dalam pengawasan, khususnya manajemen dan pengaruh politik, terutama dalam menentukan bentuk kurikulum untuk anak-anak di sekolah.
6)                  Sekolah efektif difokuskan dalam tuntutan praktik kekinian, bukan diarahkan sebagai keterkejutan terhadap perubahan sosial yang cepat dan sampai path akhir era ekonomi industri.
Lebih jauh dikemukakan Beare dkk. (1989) bahwa untuk menjawab upaya mewujudkan sekolah efektif adalah harus memperhatikan konteks pelayanan pelanggan, peningkatan produktivitas, sumber daya manajemen, pembiayaan program, gaya manajemen sekolah, pemasaran, akuntabilitas terhadap stakeholders, memasukkan tenaga ahli, kontribusi pendidikan terhadap ekonomi, dan respon terhadap kekuatan pasar. Untuk itu kepala sekolah dan guru-guru harus terlebih dahulu menjadikan organisasi memiliki keunggulan.
Seorang kepala sekolah yang diberi otonomi yang lebih luas dalam menjalankan tugasnya, maka di dalamnya ada pertanggungjawaban (accountability). Akuntabilitas pendidikan berkaitan dengan pertanggungjawaban mengenai basil (kognitif, afektif, dan kesungguhan dalam pembelajaran) yang ada di sekolah, oleh kepala sekolah, guru dan yang lainnya. Sekolah mempertanggungjawabkan pencapaian tujuan dan standar bagi pencapaian tujuan dan pengukuran usaha dari kelompok oleh yang berwenang. Suatu sekolah yang melaksanakan akuntabilitas, yaitu: kepala sekolah, administrator, dan guru-guru. Akuntabilitas ini terkait dengan akuntabilitas kinerja pelajar oleh guru, dan kinerja sekolah terkait dengan manajemen sekolah secara keselumhan oleh kepala sekolah.